CIREBONINSIDER.COM – Ikhtiar menyelamatkan Situs Buyut Krayunan dan Nyi Selawe di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, kini memasuki babak baru yang sarat dilema.
Memasuki akhir Juni 2026, progres fisik rehabilitasi total bangunan cagar budaya “Pribumi Pertama” di wilayah utara Cirebon ini dilaporkan baru menyentuh angka 75 persen.
Keterbatasan anggaran yang akut memaksa panitia pembangunan mengambil skala prioritas ekstrem: mengamankan ruang komunal peziarah, sembari membiarkan area makam inti terkunci dalam kondisi belum tersentuh material baru.
Baca Juga:Revitalisasi Situs Buyut Selawe Mandek, Anggota DPRD Jabar Asyrof Abdik Dorong Sinergi Lintas DesaTengok Revitalisasi Situs Ki Buyut Selawe Cirebon: Atap Lapuk Nyaris Ambruk, Juru Kunci Ketuk Hati Para PMI
Siasat Anggaran Minim: Aula Tahlil Didahului, Area Inti Mengalah
Juru Kunci (Kuncen) Situs Buyut Selawe, Wahyu, membeberkan bahwa capaian 75 persen tersebut difokuskan penuh pada struktur krusial yang menyangkut keselamatan publik, yakni ruang aula utama. Area titik berkumpulnya para peziarah untuk berdoa dan bertahlil.
”Anggaran kami sangat terbatas, jadi prioritas dialokasikan ke bagian yang paling krusial demi menghindari risiko ambruknya atap lapuk yang kemarin sempat mengancam keselamatan peziarah,” ujar Wahyu saat dikonfirmasi langsung di lokasi situs, Senin (22/6/2026).
Sebaliknya, bagian inti situs justru terpaksa mengalah untuk sementara waktu. Pihak pengelola memastikan bahwa makam kedua tokoh utama—Buyut Krayunan (Ki Tarsiman) dan Nyi Selawe—serta ruang makam keluarga besar situs, sama sekali belum tersentuh oleh tangan pekerja karena ketiadaan biaya operasional penunjang.
Absennya Bantuan Resmi: Bertumpu pada PMI dan Kencleng Swadaya
Tragisnya, megaproyek penyelamatan identitas sejarah Cirebon Utara yang sempat disorot oleh legislatif ini masih berjalan tanpa sokongan dana sepeser pun dari instansi formal.
Wahyu menegaskan, sejauh ini belum ada bantuan resmi yang mengalir, baik dari Pemerintah Desa (Pemdes) Grogol maupun dinas terkait di tingkat kabupaten.
Untuk menambal biaya operasional yang terus membengkak dan mencegah proyek mangkrak total, panitia mengandalkan dua napas finansial utama:
– Sumbangan Pekerja Migran Indonesia (PMI): Aliran dana terbesar sejauh ini datang dari kedermawanan para putra daerah asal Desa Grogol dan Karangkendal yang sedang mengadu nasib di luar negeri.
Baca Juga:Jaga Marwah Nyi Selawe, Restorasi Situs Pribumi Tertua di Grogol Cirebon Mulai DitempuhSelamatkan Situs Sejarah: DPRD Kabupaten Cirebon Godok Raperda Cagar Budaya, Gandeng Pakar UGJ dan Kemenkumham
– Kencleng Pungut Sukarela: Panitia mengerahkan tenaga untuk mengumpulkan donasi sukarela dari rumah ke rumah di lingkungan masyarakat sekitar wilayah Kapetakan.
