CIREBONINSIDER.COM— Di tengah kelesuan pasar global dan bayang-bayang pengetatan moneter di berbagai belahan dunia, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa justru membawa angin segar dari Jakarta saat berbicara di panggung internasional.
Di hadapan ratusan akademisi, peneliti, dan mahasiswa di Nankai University, Tianjin, Tiongkok, Menkeu menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi prima yang ditopang oleh tata kelola fiskal yang sehat, pruden, dan terjaga ketat.
Kuliah umum yang berlangsung pada Jumat (20/6) tersebut menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk menunjukkan daya saing dan kredibilitas manajemen makroekonominya di pusat salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Baca Juga:Gebrakan Menkeu Purbaya Tolak Intervensi IMF, Ketum MUI: Ini Bukti Nyata Pasal 33 UUD 1945 Bukan Pajangan!Misi "Wall Street" Menkeu Purbaya: Tepis Isu Fiskal Bermasalah, Incar Dana Segar untuk Ekonomi RI
Kehadiran Menkeu disambut langsung oleh jajaran petinggi universitas, termasuk Rektor Nankai University Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, Wakil Rektor Sheng Bin, serta Profesor Xingmin Li.
“Kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Menkeu Purbaya dalam sambutan pembukanya.
Melompat Jauh di Atas Rata-Rata Negara G20 dan ASEAN
Di podium utama, Menkeu membeberkan realitas objektif yang membuat posisi Indonesia sangat diperhitungkan pada lanskap ekonomi global terkini. Pada kuartal pertama tahun 2026, ekonomi Indonesia mencatatkan lonjakan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka ekspansi ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan sebuah pencapaian masif karena berhasil melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara anggota G20 sekaligus mengungguli mayoritas negara di kawasan ASEAN.
Hebatnya, akselerasi pertumbuhan yang agresif ini berjalan beriringan dengan tingkat stabilitas domestik yang sangat kokoh. Ketika banyak negara berjuang melawan hiperinflasi, tingkat inflasi Indonesia hingga Mei 2026 tercatat sangat jinak di level 3,08 persen.
Kombinasi pertumbuhan tinggi dan inflasi rendah inilah yang secara instan mempertebal tingkat kepercayaan (confidence) pasar serta investor global terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi Jakarta.
