Bukan Debat Kusir, PMII Cirebon Cetak Instruktur Berbasis Data untuk Kawal Kebijakan Daerah

Wakil-Ketua-DPRD-Kabupaten-Cirebon-Hasan-Basori
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Raden Hasan Basori saat menjadi pemateri Pelatihan Instruktur Cabang PC PMII Cirebon di Griya Ashabul Harakah. Foto: Istimewa/ Doc DPRD Kabupaten Cirebon

​CIREBONINSIDER.COM— Di tengah derasnya arus informasi dan tingginya potensi polarisasi di ruang digital, kemampuan aktivis mahasiswa dalam mengelola perbedaan pandangan kini menjadi keterampilan yang sangat krusial.

Ruang-ruang diskusi akademis dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi ajang debat kusir, melainkan harus bertransformasi menjadi laboratorium solutif yang mampu membedah kebijakan publik secara objektif.

​Urgensi tersebut mengemuka secara tajam dalam Pelatihan Instruktur Cabang (PIC) 2026 yang digelar oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Cirebon. Kegiatan strategis yang berlangsung di Griya Ashabul Harakah, Sabtu (20/6/2026) ini, mengusung tema besar “Resonansi Instruktur untuk Kaderisasi yang Terstruktur.”

Baca Juga:Jaga Marwah Demokrasi 2029, Bawaslu Kabupaten Cirebon Gandeng PMII ‘Kepung’ Politik UangPotensi IKA PMII Cirebon Raya Jadi Kekuatan Strategis Kemajuan Daerah, Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi

​Hadir sebagai salah satu narasumber utama, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Raden Hasan Basori, membagikan peta jalan bagi para kader untuk meningkatkan kelas intelektual organisasi.

Jinakkan Benturan Ide di Ruang Forum

​Mengisi sesi teknik dan metode diskusi, Hasan Basori menegaskan bahwa benturan argumentasi di dalam organisasi adalah hal yang sepenuhnya lumrah.

Keragaman latar belakang keilmuan dan referensi yang dimiliki setiap kader justru harus dilihat sebagai kekayaan intelektual, bukan pemantik perpecahan.

​“Perbedaan pendapat tidak bisa dihindari dalam ruang diskusi. Justru semakin banyak perspektif yang muncul, semakin kaya pembahasan yang dihasilkan,” ujar Hasan Basori di hadapan puluhan kader terbaik PMII Cirebon.

​Namun, politisi senior Kabupaten Cirebon ini menggarisbawahi bahwa limpahan ide tersebut akan menjadi sia-sia tanpa kehadiran fasilitator yang cakap.

Di sinilah peran vital seorang instruktur atau moderator diuji untuk merajut benang merah dari benang kusut perbedaan pendapat. Tugas utama mereka adalah menemukan titik temu yang jernih dan menyusun konklusi yang berbobot dari berbagai pandangan yang berkembang.

​Senjata Ilmiah: Mengapa Aktivis Butuh FGD?

​Lebih lanjut, Hasan mendorong kader PMII untuk mulai meninggalkan pola-pola diskusi konvensional yang cenderung normatif dan permukaan. Ia menawarkan efektivitas Focus Group Discussion (FGD) sebagai instrumen analisis yang jauh lebih tajam dan berbasis data (evidence-based).

Baca Juga:Kerusuhan Unjuk Rasa Berujung Penahanan, KOPRI PMII Cirebon Desak Polisi Bebaskan MassaKOPRI PB PMII Sukses Gelar 'Welcoming KOPRI’s Administrators': Kukuhkan Struktur, Perkuat Gerakan

​Berbeda dengan diskusi umum biasa, FGD memiliki karakteristik yang jauh lebih ilmiah karena menuntut pembahasan mendalam terhadap satu isu spesifik melalui berbagai pendekatan disiplin ilmu.

0 Komentar