Melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif, sebuah isu sosial atau kebijakan publik daerah dapat dikuliti secara akurat menggunakan data yang valid.
Alhasil, produk akhir yang dilahirkan bukan lagi sekadar kritik tanpa arah, melainkan draf rekomendasi komprehensif yang solutif untuk disodorkan kepada pemerintah daerah.
Kemampuan analisis dan penyusunan kesimpulan yang objektif seperti inilah yang menurut Hasan sangat dibutuhkan ketika mahasiswa terjun langsung menghadapi realitas sosial di masyarakat.
Baca Juga:Jaga Marwah Demokrasi 2029, Bawaslu Kabupaten Cirebon Gandeng PMII ‘Kepung’ Politik UangPotensi IKA PMII Cirebon Raya Jadi Kekuatan Strategis Kemajuan Daerah, Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi
Cetak Arsitek Kaderisasi yang Terarah
Selain Hasan Basori, pelatihan ini juga diperkuat oleh deretan mentor berbobot lainnya. Di antaranya Instruktur Nasional PMII Nurul Falah, Maulana Yusuf, serta Ketua PC PMII Cirebon periode 2023–2024, Sayroti Ikhwan.
Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Cirebon, Munip, menjelaskan bahwa PIC 2026 merupakan langkah taktis organisasi untuk melahirkan para arsitek kaderisasi yang andal di berbagai tingkatan. PMII Cirebon sadar betul bahwa kualitas investasi manusia di internal organisasi sangat bergantung pada kapasitas para instrukturnya.
“Kami membekali peserta dengan metodologi pelatihan, strategi kaderisasi, serta kemampuan menjadi instruktur yang mampu menggerakkan proses secara terarah, terukur, dan berkelanjutan,” ungkap Munip.
Melalui ruang simulasi yang dinamis dan interaktif, PMII Cirebon optimistis pelatihan ini mampu melahirkan instruktur ideologis yang tidak hanya jago berwacana. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu membangun ekosistem diskusi yang kritis, konstruktif, dan berdampak nyata bagi kemajuan masyarakat Cirebon.(*)
