CIREBONINSIDER.COM — Lanskap bisnis dan perputaran uang di Kota Cirebon bersiap menghadapi pembongkaran data terbesar dalam satu dekade terakhir. Langkah strategis ini resmi dimulai setelah Pemerintah Kota Cirebon bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menyepakati komitmen bersama sekaligus menerjunkan ratusan petugas lapangan Sensus Ekonomi (SE) 2026 langsung dari halaman Balai Kota pada Minggu (21/6/2026).
Upacara pelepasan tersebut menjadi lonceng pembuka bagi pemetaan masif yang akan berlangsung hingga akhir Agustus mendatang. Agenda krusial ini dirancang bukan sekadar sebagai pemenuhan rutinitas birokrasi lima tahunan, melainkan sebuah lompatan taktis untuk merombak total struktur kebijakan ekonomi lokal agar jauh lebih presisi dan agresif.
Kupas Arus Riil Perputaran Ekonomi Kota
Berdasarkan proyeksi awal yang dirilis oleh BPS, instrumen sensus kali ini akan membedah secara radikal estimasi 46 ribu unit usaha yang bergerak di seluruh penjuru kota.
Baca Juga:Manipulasi Data Sensus Ekonomi 2026 Jadi Bom Waktu, DPR Sentil BPS Solo soal Nasib Kaum DhuafaTips Atasi GALAT Login Akun Sobat BPS, untuk Daftar Petugas Sensus Ekonomi 2026
Menariknya, denyut nadi perekonomian di kota pelabuhan ini ternyata bertumpu kuat pada dua pilar utama yang menguasai lebih dari separuh lanskap bisnis lokal. Sektor perdagangan tercatat mendominasi mutlak dengan porsi mencapai 33 persen dari total ekosistem yang ada.
Sementara itu, sektor pariwisata yang mengintegrasikan jaringan perhotelan serta industri kuliner menempel ketat di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 22 persen. Akumulasi dari kedua sektor unggulan ini secara nyata mengendalikan 55 persen arah gerak ekonomi Cirebon saat ini.
”Angka-angka ini menegaskan secara gamblang di mana letak kekuatan jangkar ekonomi Kota Cirebon yang sesungguhnya. Lewat pergelaran Sensus Ekonomi 2026 ini, kami ingin memotret sampai ke lapisan terbawah bagaimana daya saing riil serta daya tahan kedua sektor tersebut di tengah dinamisnya pasar global saat ini,” ujar Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran.Kebijakan Berbasis Data: Mengakhiri Era Spekulasi
Selama ini, akurasi data di lapangan kerap menjadi batu sandungan yang memicu salah sasaran pada penyaluran program bantuan insentif maupun pemetaan zonasi investasi daerah.
Mengakhiri pola lama tersebut, Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menegaskan bahwa hasil akhir dari pendataan komprehensif ini akan langsung dikunci sebagai basis utama penyusunan rencana induk pembangunan daerah.
