Indikator sektor riil juga terus mengirimkan sinyal positif tanpa henti. Aktivitas industri manufaktur tanah air mantap bertengger di zona ekspansif dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) pada level 50,0.
Geliat ini diamankan oleh pasokan likuiditas perekonomian yang tumbuh subur hingga mencapai 14,8 persen secara tahunan, serta intervensi sektor keuangan melalui penyaluran kredit perbankan yang melesat ekspansif di angka 11,5 persen.
Benteng Kuat Devisa dan Rekor Manis Ekspor 6 Tahun Beruntun
Dari sisi ketahanan eksternal, fondasi Indonesia terbukti jauh lebih tebal dari perkiraan banyak analis. Purbaya mengungkapkan bahwa Indonesia sukses mencatatkan sejarah dengan mengantongi surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
Baca Juga:Gebrakan Menkeu Purbaya Tolak Intervensi IMF, Ketum MUI: Ini Bukti Nyata Pasal 33 UUD 1945 Bukan Pajangan!Misi "Wall Street" Menkeu Purbaya: Tepis Isu Fiskal Bermasalah, Incar Dana Segar untuk Ekonomi RI
Rekor impresif selama 6 tahun penuh tanpa jeda ini menjadi mesin utama pasokan valuta asing yang memperkuat posisi tawar Indonesia.
Sejalan dengan performa ekspor tersebut, posisi cadangan devisa nasional meroket ke angka USD144,9 miliar. Jumlah instrumen penyangga ini sangat aman karena setara dengan 5,6 bulan pembiayaan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi ini memberikan bantalan (buffer) yang sangat tebal bagi pasar domestik dari potensi rambatan risiko volatilitas finansial global.
Bukan Angka Mati: Efek Berantai ke Dompet dan Kesejahteraan Rakyat
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menekankan secara lugas bahwa keberhasilan tata kelola makroekonomi ini sama sekali bukan sekadar deretan angka mati di atas kertas laporan keuangan negara. Setiap pertumbuhan fiskal dirancang untuk bertransformasi langsung menjadi perbaikan hajat hidup masyarakat luas di lapangan.
Kebijakan hilirisasi dan stimulus ekonomi riil yang dijalankan pemerintah terbukti ampuh menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru dalam periode satu tahun terakhir. Dampak langsungnya, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia berhasil ditekan jatuh hingga menyentuh level 4,68 persen pada tahun 2026.
Tidak hanya itu, integrasi data fiskal yang akurat dan penyaluran program perlindungan sosial yang tepat sasaran juga berhasil memukul mundur angka kemiskinan secara gradual namun pasti. Persentase kemiskinan nasional tercatat terus menyusut dari semula berada di angka 8,57 persen pada September 2024, kini turun menjadi 8,25 persen pada September 2025.
“Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata,” pungkas Menkeu di akhir kuliah umumnya.(*)
