Tengok Revitalisasi Situs Ki Buyut Selawe Cirebon: Atap Lapuk Nyaris Ambruk, Juru Kunci Ketuk Hati Para PMI

Situs-Ki-Buyut-Selawe-Cirebon
Juru Kunci Wahyu berdiri di depan bangunan Situs Ki Buyut Selawe Cirebon yang sedang direvitalisasi pada bagian rangka atapnya. Foto: Istimewa/doc. Cirebon Insider

CIREBONINSIDER.COM – Di tengah deru modernisasi zaman, sebuah rekam jejak sejarah peradaban Islam tertua di utara Kabupaten Cirebon kini sedang berjuang melawan keterbatasan.

Situs Ki Buyut Selawe, yang terletak di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, saat ini tengah mengalami proses revitalisasi darurat. Sayangnya, ikhtiar luhur menjaga warisan leluhur ini terancam mangkrak akibat benturan anggaran yang minim.

​Berdasarkan pantauan terkini di lapangan pada Rabu (20/5/2026), aktivitas pembangunan tampak berjalan melambat. Struktur atap bangunan utama telah dibongkar total karena kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan.

Baca Juga:Jaga Marwah Nyi Selawe, Restorasi Situs Pribumi Tertua di Grogol Cirebon Mulai DitempuhJaga Nataru, 10.000 Banser Apel Kebangsaan di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati Dipimpin Kapolri

Kayu-kayu penyangga yang telah lapuk dimakan usia memaksa pihak pengelola untuk segera melakukan perbaikan total demi menghindari tragedi fisik bangunan yang tidak diinginkan.

​Taruhan Keselamatan Peziarah dan Atap yang Lapuk

​Langkah berani membongkar dan membangun ulang situs ini bukan tanpa alasan mendesak. Menurut Juru Kunci Situs Ki Buyut Selawe, Wahyu, kondisi fisik bangunan terutama bagian atap sudah masuk dalam kategori zona bahaya yang mengancam keselamatan publik.

​”Alasan utama kami melakukan revitalisasi segera adalah untuk menjaga keselamatan para peziarah. Kondisi atap sudah sangat lapuk, kami khawatir sewaktu-waktu bisa ambruk dan menelan korban,” ujar Wahyu saat ditemui di sela-sela aktivitasnya di lokasi situs.

​Situs Ki Buyut Selawe bukan sekadar bangunan tua, melainkan episentrum spiritual bagi warga lokal maupun peziarah dari berbagai daerah.

Setiap minggunya, puluhan hingga ratusan orang datang memanjatkan doa, sehingga faktor kelayakan fasilitas menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar lagi.

​Anggaran Minim dan Ganjalan Musim Panen

​Meski urgensinya sangat tinggi, proyek gotong royong ini harus menghadapi realitas pahit. Anggaran pengerjaan murni mengandalkan sisa saldo pengelolaan situs yang jumlahnya sangat terbatas.

Selebihnya, proyek ini sepenuhnya bergantung pada swadaya dan kedermawanan murni dari masyarakat setempat. ​Namun, roda swadaya masyarakat saat ini sedang berjalan di tempat.

Baca Juga:DPRD Kabupaten Cirebon Usul Bentuk Tim Khusus Atasi Pengemis di Makam Sunan Gunung JatiRp2,2 M Dana Pribadi Prabowo, 100 Becak Listrik Ubah Hidup Lansia Cirebon; Mangkal di Trusmi dan Gunung Jati

Mayoritas warga Desa Grogol yang berprofesi sebagai petani belum mampu memberikan sumbangsih material secara maksimal lantaran kondisi sawah yang belum memasuki musim panen.

Kondisi ekonomi agraris yang fluktuatif ini membuat pengumpulan dana swadaya lokal menjadi tersendat.

0 Komentar