CIREBONINSIDEN.COM– Sejarah besar Kerajaan Pakuan Pajajaran kerap kali terjebak dalam ruang gelap mistisisme dan narasi klenik di tengah masyarakat modern.
Bergerak mendobrak pakem tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi mendorong penyusunan kajian akademik komprehensif terhadap dua artefak paling sakral dalam kosmologi Sunda: Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake.
​Langkah ini diambil bukan sekadar untuk inventarisasi purbakala, melainkan guna mengubah paradigma publik sekaligus mentransformasikan nilai sejarah masa lalu menjadi fondasi kebijakan pembangunan masa depan Jawa Barat.
Baca Juga:Revolusi Wajah Cirebon, KDM Restorasi 4 Keraton demi Hidupkan Kembali Marwah Tatar SundaJemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026
​Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa naskah akademik ini nantinya akan memuat data validitas tinggi, mulai dari penanggalan ilmiah, material bahan, identitas kreator, hingga rekonstruksi teks secara multidimensi.
​”Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif. Begitu juga dengan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake,” ujar pria yang akrab disapa KDM tersebut dalam Diskusi Kecagarbudayaan di Museum Pajajaran Bogor, Kamis (14/5/2026).
​Membaca Cetak Biru Pajajaran: Dari Artefak ke Tata Ruang Modern
​Lebih dari sekadar komoditas wisata lokal, KDM memproyeksikan naskah akademik kedua artefak ini sebagai basis integrasi kebijakan makro.
Nilai-nilai filosofis dan struktur pemerintahan Pajajaran yang tertuang dalam benda sejarah tersebut ditargetkan menjadi landasan formal dalam penyusunan tata ruang, arsitektur bangunan, tata kelola pendidikan, hingga sistem kesehatan di Jawa Barat.
​”Harus ada kesatuan yang presisi antara kejayaan sejarah masa lalu dengan arah pembangunan masa depan kita,” cetus KDM.
​Secara historis, Kota Bogor memegang posisi sentral sebagai ibu kota (tatar) Kerajaan Pakuan Pajajaran. Keberadaan Prasasti Batutulis menjadi bukti autentik dari fakta empiris tersebut, merekam era keemasan di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.
​Ahli Epigrafi terkemuka, Titi Surti Nastiti, menjelaskan dalam forum yang sama bahwa Prasasti Batutulis sejatinya adalah wujud penghormatan politik dan spiritual.
Baca Juga:Napak Tilas Mahkota Binokasih, Pesan Dedi Mulyadi Tentang Identitas dan Masa Depan CirebonWajah Baru Kota Tua Cirebon: Kirab Mahkota Binokasih 10 Mei Jadi Awal Revolusi Heritage!
Artefak ini dipahat atas perintah Raja Surawisesa demi memperingati jasa-jasa besar ayahnya, Prabu Siliwangi (1482-1521), yang berhasil melakukan reformasi agraria dan penataan infrastruktur perkotaan di Pakuan Pajajaran.
