Bukan Klenik, Dedi Mulyadi Jabar Jadikan Sejarah Batutulis dan Mahkota Binokasih Kompas Tata Ruang Baru

Gubernur-Dedi-Mulyadi
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat Diskusi Kecagarbudayaan Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih di Museum Pajajaran Bogor. Foto: Humas Pemprov Jabar

​Namun, pasca-runtuhnya imperium Sunda akibat dinamika geopolitik dan menguatnya pengaruh kesultanan Islam di Pulau Jawa, sisa-sisa fisik kemegahan Pajajaran seolah lenyap ditelan waktu.

Beruntung, simbol legitimasi tertinggi mereka berhasil diselamatkan dan dirawat secara turun-temurun di Keraton Sumedang Larang: Mahkota Binokasih.

​Kosmologi Tritangtu: Anatomi Mahkota Binokasih Berdasarkan Analisis BRIN

​Misteri kekuatan kultural Mahkota Binokasih kini mulai terkuak secara rasional. Ahli Arkeometalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harry Octavianus Sofian, membedah anatomi mahkota tersebut melalui pendekatan sains dan kebudayaan.

Baca Juga:Revolusi Wajah Cirebon, KDM Restorasi 4 Keraton demi Hidupkan Kembali Marwah Tatar SundaJemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026

​Hasil analisis BRIN menunjukkan bahwa Mahkota Binokasih didesain sebagai manifestasi visual dari konsep Kosmologi Tritangtu—sebuah ideologi hidup masyarakat Sunda yang menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

​Secara struktural, Harry membagi desain Mahkota Binokasih ke dalam tiga struktur kepemimpinan Sunda Kuno yang sangat berwibawa:

– ​Struktur Atas (Rama/Rohaniawan): Didesain menyerupai bentuk stupa yang didominasi oleh ornamen bunga teratai. Bagian ini mewakili peran Rama, yakni kelompok pemimpin spiritual dan penjaga adat yang wajib memiliki kebijaksanaan tinggi.

Bentuk ini menyimbolkan bahwa pemimpin harus mampu memancarkan keindahan serta kemaslahatan bagi rakyatnya.

– ​Struktur Tengah (Ratu atau Prabu): Bagian tengah mahkota dihiasi dengan ukiran daun segitiga di sisi-sisinya serta ornamen Garuda Mungkur di sisi belakang.

Ini melambangkan peran Ratu/Prabu sebagai eksekutif tertinggi. Maknanya tegas: seorang raja wajib mengambil keputusan secara adil, berani, kesatria, dan menjadi perisai pelindung bagi rakyat yang dipimpinnya.

– ​Struktur Bawah (Resi/Intelektual): Bagian dasar mahkota merefleksikan ajaran spiritual dan intelektual Kasundaan Bunisora Suradipati—tokoh legendaris abad ke-14 yang dikenal meletakkan fondasi etika kepemimpinan Sunda-Galuh.

Baca Juga:Napak Tilas Mahkota Binokasih, Pesan Dedi Mulyadi Tentang Identitas dan Masa Depan CirebonWajah Baru Kota Tua Cirebon: Kirab Mahkota Binokasih 10 Mei Jadi Awal Revolusi Heritage!

Struktur ini mewakili kaum Resi, kelompok pemikir, ilmuwan, dan penasihat agung yang menyuplai rasionalitas dalam setiap kebijakan kerajaan.

​Momentum Milangkala Tatar Sunda: Napak Tilas yang Hidup

​Kehadiran Mahkota Binokasih di Kota Bogor kali ini merupakan bagian dari rangkaian sakral Milangkala Tatar Sunda.

Mahkota emas tersebut dibawa keluar dari ruang penyimpanan Keraton Sumedang Larang untuk diarak dalam prosesi napak tilas ke berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat.

0 Komentar