Jemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026

Gubernur-Dedi-Mulyadi
Prosesi sakral Kirab Mahkota Binokasih Sanghyang Pake di Jawa Barat, simbol suksesi sejarah dari Kerajaan Pajajaran ke Sumedang Larang. Foto: Humas Pemprov Jabar

CIREBONINSIDER.COM — Tanah Pasundan kembali bergetar dalam balutan tradisi. Sebuah pusaka yang menjadi saksi bisu runtuhnya singgasana sekaligus lahirnya kepemimpinan baru, Mahkota Binokasih, kembali diarak dalam rangkaian dramatis Napak Tilas Pajajaran 2026.

Dimulai dari Cianjur hari ini, Rabu (6/5/2026), kirab ini bukan sekadar parade estetika atau tontonan semata. Ini adalah upaya radikal untuk merawat ingatan kolektif masyarakat Sunda di tengah kepungan arus digital yang kian menggerus identitas lokal.

Rute Sakral: Cahaya Malam dari Cianjur Menuju Jantung Prabu Siliwangi

Masyarakat Cianjur mendapat kehormatan menjadi titik awal dimulainya prosesi agung ini. Dimulai tepat pukul 19.30 WIB malam ini, suasana khidmat diprediksi akan menyelimuti setiap jengkal rute yang dilalui.

Baca Juga:Di Balik Estafet Mahkota Binokasih: Dedi Mulyadi "Sidak" Pohon dan Tebing di Jalur Sumedang-CiamisMenggugat Lupa: Sejarah 669 Masehi di Balik Keputusan Dedi Mulyadi Tetapkan Hari Tatar Sunda

Pemilihan waktu malam hari secara filosofis melambangkan “cahaya kebijaksanaan” masa lalu yang hadir untuk menerangi kegelapan masa depan.

​Puncak perjalanan sejarah ini akan mencapai titik krusial pada Jumat, 8 Mei 2026. Mengambil rute paling legendaris dalam ingatan Tatar Sunda, mahkota akan dibawa dari Batu Tulis menuju Kebun Raya Bogor melalui Gerbang Sembilan.

​”Titik ini bukan sekadar garis rute, melainkan simbol kepulangan marwah Pajajaran ke pusat kekuasaannya dahulu,” tulis catatan sejarah yang melandasi kirab tahun ini.

​Lebih dari Tradisi: Pesan Kepemimpinan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

​Mahkota Binokasih Sanghyang Pake bukan emas biasa. Bobot sejarahnya melampaui fisik materinya. Penyerahannya dari Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang berabad-abad silam adalah simbol suksesi damai dan persatuan yang langka dalam sejarah dunia.

Dalam konteks sosial 2026, kirab ini membawa tiga misi utama bagi publik:

– PERTAMA, ​Rekonsiliasi Budaya: Merajut kembali simpul kearifan lokal antara Cianjur, Sumedang, dan Bogor dalam satu garis lurus sejarah.

– KEDUA ,​Identitas Generasi: Jawaban atas kerinduan generasi muda akan sosok teladan kepemimpinan yang Nyunda, Nyantri, dan Nyakola.

Baca Juga:FKSM 2025: Kementerian Kebudayaan Sukses Ubah Gudang Pelabuhan Cirebon Jadi Ruang Seni PublikIkon Baru Seni Budaya Sunda: Geoteater Rancakalong Sumedang Disiapkan Setara GWK Bali

– ​KETIGA, Ekonomi Berbasis Nilai: Transformasi budaya menjadi magnet wisata nasional yang secara nyata mampu menggerakkan sektor UMKM di sepanjang jalur kirab.

Keamanan dan Kesakralan: Imbauan bagi Pengunjung

​Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama otoritas setempat menekankan bahwa meskipun acara ini bersifat terbuka bagi publik, nilai kesakralan adalah prioritas utama.

0 Komentar