CIREBONINSIDER.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar soal membagikan kotak nasi kepada siswa sekolah.
Lebih dari itu, MBG adalah sebuah orkestrasi ekonomi dan inovasi pangan yang menuntut peran nyata dunia akademik agar uang negara tidak “lari” ke industri besar, melainkan berputar di daerah.
Laboratorium Nyata, Bukan Proyek Sektoral
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, secara tegas menyebut MBG sebagai “laboratorium nyata” bagi kampus.
Baca Juga:Filter Ketat di 43 Dapur Gizi Cirebon, Jamin Program MBG Bebas dari "Bom Waktu" KimiaMarak Keracunan, MBG Bisa Jadi Bom Waktu? Komisi IX DPR Sentil Manajemen ‘Setengah Matang’!
Di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), tantangan ini sangat relevan. Mahasiswa KKN hingga pakar gizi ditantang untuk tidak hanya berkutat pada teori, tetapi terjun langsung mengawal Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“MBG adalah ruang pembelajaran. Semua fakultas bisa terlibat, mulai dari kesehatan hingga akuntansi untuk mengelola transparansi dana,” ungkap Nanik dalam sebuah sosialisasi nasional yang menjadi sinyal bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Pelajaran Inovasi: Mencari “Ayam Alope” di Ciayumajakuning
Inovasi Universitas Hasanuddin yang berhasil mengembangkan “Ayam Alope” (Ayam Lokal Unggul) serta penyedap rasa non-MSG seharusnya menjadi pemantik bagi kampus di Cirebon dan sekitarnya.
Potensi lokal kita sangat melimpah:- Sektor Pesisir: Kampus bisa mengolah hasil laut Cirebon-Indramayu menjadi serbuk protein alami.
– Sektor Peternakan: Memperkuat galur ayam kampung lokal di Kuningan dan Majalengka agar mampu memasok kebutuhan protein tanpa bergantung pada impor atau korporasi besar.
Nasionalisme Ekonomi: Ompreng Hingga Logistik
Salah satu poin kritis yang ditekankan adalah prinsip nasionalisme. Seluruh rantai pasok—mulai dari peralatan makan (ompreng), bahan baku pangan, hingga kendaraan operasional—diharapkan merupakan produk lokal.
”Jangan sampai kebutuhan ayam di Cirebon justru didatangkan dari luar daerah dalam skala besar. Perputaran uang harus tinggal di masyarakat setempat,” tegas narasi kebijakan BGN tersebut.
Baca Juga:Heboh Anggaran IT Rp1,2 Triliun, Kepala BGN Bongkar Anatomi Proyek SIPGN dan Peran PeruriSains di Balik Program MBG: BGN Gandeng Korea Kembangkan Inovasi Pangan Berkelanjutan
Mitigasi Risiko Keamanan Pangan
Peran strategis lain yang tak kalah penting adalah fungsi pengawasan. Perguruan tinggi di Cirebon diharapkan menyiapkan laboratorium yang siap melakukan investigasi jika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait keamanan pangan. Ini merupakan bentuk perlindungan konkret bagi ribuan anak penerima manfaat di wilayah Ciayumajakuning.
