Menggugat Lupa: Sejarah 669 Masehi di Balik Keputusan Dedi Mulyadi Tetapkan Hari Tatar Sunda

Napak-Tilas-Padjadjaran
Ilustrasi prosesi khidmat penyerahan Mahkota Binokasih dari Museum Geusan Ulun ke Kereta Kencana untuk Napak Tilas Padjadjaran 2026. Foto Ilustrasi /AI

CIREBONINSIDER.COM— Sejarah bukan sekadar deretan angka di buku usang; ia adalah kompas peradaban yang baru saja dikalibrasi ulang di Tanah Pasundan. Sabtu (2/5/2026), halaman Museum Geusan Ulun Sumedang menjadi saksi dimulainya sebuah pergerakan kebudayaan masif bertajuk Napak Tilas Padjadjaran.

​Simbol supremasi itu—Mahkota Binokasih—kini tidak lagi diangkut dengan kendaraan taktis Jeep. Di atas kereta kencana yang megah, mahkota legendaris tersebut memulai perjalanan epik melintasi delapan titik sejarah di Jawa Barat, menuju muara akhir: Gedung Sate, Bandung.

​Paradigma Baru: Menjemput Ruh dari Masa Lalu

​Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menegaskan bahwa perubahan medium pengangkutan mahkota ini adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan.

Baca Juga:Ironi Ijazah Tinggi Tapi Nganggur, Tuti Andriani dan Dedi Mulyadi Rombak Strategi Vokasi Jabar 2026Pusat Obral Insentif, Dedi Mulyadi Tegaskan Kendaraan Listrik di Jabar Tetap Bayar Pajak: Kan Pakai Jalan!

Ia ingin memastikan bahwa simbol leluhur diperlakukan dengan tata krama yang selaras dengan nilai asalnya.

​”Mulai tahun ini, Mahkota Binokasih diarak dengan acara kebudayaan yang berasal dari nilai leluhur kita. Ia mampir ke akar-akar peradaban sebelum puncaknya di Bandung,” ujar KDM dalam prosesi yang dihadiri Raja Sumedang H.R.I Lukman Soeriadisoeria dan jajaran pejabat tinggi Jawa Barat.

Namun, esensi sebenarnya terletak pada payung hukum baru: Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026. Lewat aturan ini, tanggal 18 Mei secara resmi ditetapkan sebagai Hari Tatar Sunda.

​Landasan Faktual: Jejak Maharaja Trarusbawa

Penetapan 18 Mei bukanlah hasil romantisasi tanpa dasar. Peneliti sejarah sekaligus akademisi Unpad, Prof. Nina Herlina, mengungkap data faktual yang menjadi pijakan kuat penetapan ini.

Merujuk pada naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dan disinkronkan dengan Catatan Cina dari Dinasti Tang, tanggal 18 Mei 669 Masehi adalah momen krusial saat Maharaja Trarusbawa mengubah nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda.

“Ini adalah awal lahirnya Tatar Sunda. Penetapan ini bertujuan agar masyarakat terus menghidupkan budaya Sunda di wilayahnya masing-masing, bukan sekadar memperingati berdirinya sebuah kerajaan,” tegas Nina saat jumpa media di Gedung Sate.

​Dua Jantung Identitas Jawa Barat

​Dosen Hukum Unpad, Hernadi Affandi, menambahkan bahwa hadirnya Hari Tatar Sunda tidak akan meniadakan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat pada 19 Agustus. Sebaliknya, keduanya akan menjadi dua jantung yang saling melengkapi.

0 Komentar