CIREBONINSIDER.COM – Di tengah bayang-bayang ancaman krisis pangan global, Indonesia justru menunjukkan anomali positif yang signifikan. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dilaporkan telah menyentuh angka fantastis, yakni 5 juta ton.
Capaian ini menjadi indikator kuat bahwa fondasi kedaulatan pangan nasional kini berada pada level yang sangat kompetitif.
Langkah akseleratif ini mendapat apresiasi dari parlemen. Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah bukti nyata dari efektivitas kebijakan transformasi sektor pertanian di bawah komando Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
Baca Juga:Bungkam Spekulasi Global, Indonesia Amankan Swasembada Beras 2026, Stok Bulog Pecah Rekor SejarahDunia Terperangah, Swasembada RI Paksa Harga Beras Global Turun Tajam 44 Persen
“Presiden Prabowo awalnya menargetkan swasembada beras dalam empat tahun. Namun, Mentan Amran hanya membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk menunjukkan hasil nyata. Ini adalah lompatan yang luar biasa bagi ketahanan pangan kita,” ujar Rajiv di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ketahanan Pangan Hingga 324 Hari
Lonjakan cadangan pangan ini didorong oleh kenaikan produksi nasional yang mencapai 13,29 persen dibandingkan periode sebelumnya. Dengan rata-rata produksi bulanan sebesar 5,7 juta ton, Indonesia diklaim memiliki “napas” cadangan pangan yang aman hingga 324 hari ke depan.
Data ini menjadi krusial mengingat dinamika geopolitik dunia yang tidak menentu. “Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita justru aman. Cadangan berlimpah ini adalah benteng kita,” tambah Rajiv.
Strategi Breakthrough Kementan
Keberhasilan ini bukan terjadi secara instan, melainkan buah dari perbaikan sistemik dari hulu hingga hilir. Kementan melakukan langkah radikal dengan melakukan deregulasi besar-besaran untuk memotong rantai birokrasi yang selama ini menyulitkan petani.
Beberapa poin kunci keberhasilan tersebut meliputi:
– Revolusi Pupuk: Mengembalikan alokasi subsidi menjadi 9,55 juta ton dan memangkas harga hingga 20% guna memastikan petani tak lagi kesulitan sarana produksi.
– Modernisasi Lahan: Penggunaan teknologi precision farming dan pompanisasi masif di lahan tadah hujan untuk menjaga produktivitas sepanjang tahun.
– Intervensi Hilir: Kebijakan penyerapan gabah oleh Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram, yang berhasil menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.
Baca Juga:El Nino 2026: Ancaman Kemarau Ekstrem Bayangi Indramayu, Stok Beras Nasional DipertaruhkanRekor Stok Beras 22,5 Juta Ton: Benteng Pangan Nasional atau Sekadar Angka di Atas Kertas?
Target Swasembada: Satu Tahun Jadi Target Baru
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian ini adalah hasil dari keberanian mengubah sistem. Bukan sekadar menjalankan rutinitas.
