CIREBONINSIDER.COM – Pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi mengumumkan status “Siaga Satu” pangan dengan catatan yang mencengangkan.
Di tengah ancaman anomali iklim El Nino yang diprediksi bertahan selama enam bulan ke depan, stok beras nasional diklaim mencapai level tertinggi sepanjang sejarah republik: 22,5 juta ton.
Meski angka ini menjadi angin segar bagi ketahanan pangan, publik kini menanti bukti nyata: Apakah melimpahnya pasokan di gudang mampu menekan harga di tingkat pasar retail yang seringkali fluktuatif?
Baca Juga:Pacu Swasembada di Tengah El Nino, Petani Pegagan Kidul Cirebon Desak Bantuan Alat Mesin PanenUji Nyali Ketahanan Pangan 2026: Di Balik Klaim 'Aman' 324 Hari dan Bayang-bayang El Nino
Benteng Pangan Terkuat Hadapi El Nino
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kalkulasi stok saat ini telah memperhitungkan risiko terburuk dari dampak cuaca ekstrem. Saat meninjau gudang beras di Karawang (23/4/2026), ia merinci kekuatan cadangan pangan kita.
“Kita menghadapi El Nino sekitar 6 bulan, namun masyarakat tidak perlu khawatir. Stok di BULOG saja ada 5 juta ton. Jika ditambah sektor Horeka 12,5 juta ton dan standing crop 11 juta ton, totalnya 22,5 juta ton. Ini cukup untuk kebutuhan 11 bulan ke depan,” jelas Amran.
Sentilan Kritis dari Senayan: Keseimbangan Harga adalah Kunci
Namun, angka fantastis ini tidak lantas membuat Komisi IV DPR RI berpuas diri. Wakil Ketua Komisi IV, Panggah Susanto, memberikan catatan kritis saat memimpin rombongan kunjungan kerja di Gudang BULOG Panaikang, Makassar.
Panggah menekankan bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak hanya diukur dari tumpukan karung di gudang, melainkan dari keterjangkauan harga di tangan konsumen.
“Kami minta kalkulasi yang presisi. Jangan sampai stoknya tinggi, tapi harga di pasar tetap liar. Keseimbangan ini yang akan terus kami monitor secara ketat,” tegasnya.
Operasi Pasar dan Bantuan Pangan Masif
Menjawab tantangan distribusi, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengungkapkan dua strategi “pukul rata” untuk menjaga stabilitas:
– Intervensi SPHP: Pemerintah menargetkan penyaluran 828 ribu ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sepanjang tahun 2026 untuk membanjiri pasar.
Baca Juga:Bulog Cirebon Serap 2,6 Ton Gabah Larangan, Sinergi Pemkot- Kodim 0614 Perkuat Stok Pangan 2026Bungkam Spekulasi Global, Indonesia Amankan Swasembada Beras 2026, Stok Bulog Pecah Rekor Sejarah
– Jaring Pengaman Sosial: Penyaluran bantuan pangan kepada 33 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Hingga 23 April 2026, realisasi bantuan berupa 10kg beras dan 2 liter Minyakita ini telah mencapai 20 persen dan ditargetkan tuntas akhir Mei mendatang.
