Pacu Swasembada di Tengah El Nino, Petani Pegagan Kidul Cirebon Desak Bantuan Alat Mesin Panen

Ilustrasi-Hamparan-Sawah
Potret hamparan sawah 550 hektar di Desa Pegagan Kidul, Kapetakan, Cirebon, yang membutuhkan dukungan mesin panen modern guna percepatan masa tanam 2026. Foto: Ilustrasi/AI

​CIREBONINSIDER.COM – Ambisi besar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat untuk menggenjot Indeks Pertanaman (IP) di tengah anomali cuaca April 2026 menghadapi tantangan nyata di lapangan.

Di saat stok pangan nasional diklaim melimpah, petani di wilayah Pantura, tepatnya di Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, justru sedang berpacu dengan waktu melawan keterbatasan Alat Mesin Pertanian (Alsintan).

Ketua DPD HKTI Jawa Barat, Entang Sastraatmaja, sebelumnya menyatakan bahwa hujan yang masih turun sepanjang April adalah peluang emas untuk menambah frekuensi tanam sebelum El Nino benar-benar tiba.

Baca Juga:Uji Nyali Ketahanan Pangan 2026: Di Balik Klaim 'Aman' 324 Hari dan Bayang-bayang El NinoPrediksi BMKG 2026: 93% Wilayah Jawa Barat Dilanda Kemarau Panjang, Cirebon-Indramayu Masuk Zona Merah

Namun, bagi petani di Desa Pegagan Kidul, peluang tersebut terancam sirna akibat sulitnya mengakses mesin panen (combine harvester).

Krisis Mesin Panen di Kapetakan: Bergantung pada ‘Mesin Luar’

Kondisi di lapangan menunjukkan adanya disparitas tajam antara kebijakan makro dan realitas di tingkat desa. Raksa Bumi Desa Pegagan Kidul, Sudin, mengungkapkan bahwa para petani di wilayahnya selalu mengalami kesulitan sistemik setiap kali musim panen tiba.

Luas hamparan sawah yang mencapai lebih dari 550 hektar di Pegagan Kidul tidak sebanding dengan jumlah mesin panen yang tersedia secara lokal. Walhasil, mekanisasi yang seharusnya mempercepat kerja justru menjadi titik sumbat produksi.

“Kami sangat bergantung pada mesin combine yang didatangkan dari wilayah jauh, seperti Demak. Masalahnya, mesin tersebut tidak selalu langsung ke desa kami; mereka sering mampir ke desa sebelah yang lebih dahulu memesan. Akibatnya, petani harus antre panjang dan membuang waktu berharga,” ujar Sudin dengan nada khawatir.

Antrean ini bukan sekadar masalah teknis waktu tunggu. Keterlambatan panen secara otomatis menggeser jadwal tanam musim gaduh (kemarau).

Jika jadwal tanam meleset, para petani dipastikan akan menghadapi risiko defisit air yang diprediksi terjadi pada bulan-bulan mendatang akibat dampak El Nino.

Ironi di Balik Rekor Cadangan Beras Nasional

Secara nasional, sektor pertanian Indonesia sebenarnya sedang berada di atas angin. Hingga 15 April 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencatat rekor tertinggi sebesar 4,7 juta ton.

Baca Juga:Strategi Cerdas Petani Hadapi Kemarau 2026: Hemat Air 20% lewat Inovasi Pipa Paralon AWDMusim Kemarau Basah Masih Berlangsung, Berikut Manfaat dan Bahayanya

Keberhasilan swasembada yang diraih pada tahun 2025 seharusnya menjadi modal kuat untuk menghadapi krisis iklim tahun ini. ​Namun, tanpa pemerataan alsintan di titik-titik krusial seperti Kapetakan, target tanam serempak yang dicanangkan pemerintah pusat akan sulit tercapai.

0 Komentar