CIREBONINSIDER.COM — Lanskap digital Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Kehadiran teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar mempermudah pekerjaan manusia, melainkan telah menjelma menjadi instrumen baru yang mampu memproduksi hoaks secara presisi, masif, dan manipulatif.
Menghadapi ancaman nyata yang berpotensi memicu polarisasi sosial ini, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Cirebon mengambil langkah strategis nonkonvensional dengan merangkul kekuatan moralitas lokal dari balik bilik pesantren.
Bekerja sama dengan Relawan TIK (RTIK) Kabupaten Cirebon, pihak Diskominfo menggelar program pembinaan intensif Komunitas Informasi Masyarakat (KIM).
Baca Juga:Respons PP 17/2025, Diskominfo Indramayu Bentuk Saka Kominfo untuk Lindungi Anak di Ruang DigitalStrategi Hemat Listrik Diskominfo Kuningan: Kebijakan Satu Ruang Satu Printer Terbukti Tekan Biaya Operasional
Kegiatan yang mengusung tema besar “Epistemologi Kebenaran di Era AI: Peran Santri dalam Verifikasi Informasi” tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Daqu, Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Rabu (3/6/2026).
Langkah taktis ini menjadi angin segar sekaligus preseden penting mengenai bagaimana elemen pesantren dilibatkan aktif sebagai benteng pertahanan informasi dari akar rumput.
Urgensi ‘Fikih Informasi’ di Tengah Gempuran Rekayasa Digital
Teknologi generatif AI saat ini telah memiliki kemampuan mutakhir untuk merekayasa wajah (deepfake), memanipulasi klon suara, hingga menyusun narasi propaganda tertulis yang sangat meyakinkan dalam hitungan detik.
Jika konten-konten artifisial ini dilepas ke masyarakat yang belum memiliki tingkat literasi digital yang matang, dampaknya bisa sangat destruktif bagi stabilitas sosial regional.
Kepala Diskominfo Kabupaten Cirebon, Bambang Sudaryanto, saat dikonfirmasi secara terpisah pada Senin (8/6/2026), menegaskan bahwa perubahan radikal dalam ekosistem informasi ini menuntut adanya keahlian verifikasi tingkat tinggi yang melekat pada setiap individu.
“Di tengah pesatnya perkembangan AI, kemampuan memverifikasi informasi bukan lagi sekadar keahlian tambahan, melainkan kebutuhan primer untuk bertahan di ruang digital. Kami berharap besar para santri dapat menjadi teladan, motor penggerak, sekaligus jangkar moral yang menyebarkan informasi benar serta bertanggung jawab di tengah masyarakat,” ujar Bambang dengan tegas.
Menurut Bambang, komunitas pesantren memiliki modal sosial yang sangat kokoh. Doktrin klasik Islam yang sangat menekankan pentingnya konsep tabayyun (konfirmasi dan klarifikasi data) dinilai linier dengan metodologi cek fakta modern.
