Mengingat suara santri dan kiai cenderung didengar dan dipatuhi oleh masyarakat tradisional, posisi mereka dinilai sangat strategis untuk mengikis rantai penyebaran berita bohong.
Senjata Digital Santri: Menjinakkan Algoritma dan Manipulasi Gen-AI
Dalam pelatihan komprehensif tersebut, para santri tidak sekadar dijejali dengan teori normatif, melainkan dibekali dengan modul taktis terapan untuk mengidentifikasi serta memitigasi produk manipulasi digital.
Narasumber dari RTIK Kabupaten Cirebon, Aries Saefullah, membeberkan tiga pilar utama yang harus dikuasai santri untuk menjinakkan bias informasi era kecerdasan buatan:
Baca Juga:Respons PP 17/2025, Diskominfo Indramayu Bentuk Saka Kominfo untuk Lindungi Anak di Ruang DigitalStrategi Hemat Listrik Diskominfo Kuningan: Kebijakan Satu Ruang Satu Printer Terbukti Tekan Biaya Operasional
– Skeptisisme Logis Terhadap Konten Provokatif: Melatih ketajaman intuisi untuk mempertanyakan keaslian gambar, audio, dan narasi yang sengaja dirancang mengeksploitasi emosi pembaca.
– Pemanfaatan Perangkat Cek Fakta Modern (AI Detector & Reverse Image): Mengajarkan santri secara langsung cara mengoperasikan instrumen digital pelacak guna menelusuri sumber primer data serta keaslian metadata sebuah berkas digital.
– Internalisasi Etika Komunikasi Publik: Menyatukan kaidah jurnalistik universal mengenai keberimbangan informasi (cover both sides) dengan tanggung jawab spiritual personal.
“Kemampuan memverifikasi informasi kini menjadi keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap individu tanpa terkecuali, termasuk kalangan santri. Kami berkomitmen menumbuhkan sikap kritis yang presisi dalam menyaring arus informasi, sehingga para santri mampu bertransformasi menjadi agen penyebar kebenaran yang bijak, sahih, dan membawa maslahat luas,” terang Aries.
Tegalgubug Bersiap Jadi Episentrum Literasi Digital Berbasis Santri
Kecamatan Arjawinangun, khususnya Desa Tegalgubug, selama ini telah dikenal luas di tingkat nasional sebagai pusat perputaran ekonomi sandang terbesar di Jawa Barat.
Melalui inisiasi ini, kawasan ini membuktikan diri mampu melangkah lebih jauh untuk menjadi motor penggerak literasi digital berbasis santri yang progresif.
Pengasuh Pondok Pesantren Daqu Tegalgubug, Rivqil Asyiq, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi lintas sektoral ini.
Baca Juga:Perkuat Sinergi di Bulan Suci, DWP Diskominfo Indramayu Rombak Struktur dan Fokus 5 Pilar StrategisRevolusi Digital Indramayu: Diskominfo Rilis ‘Wong Reang Apps’, Super Apps dengan Fitur Marketplace UMKM Globa
“Kami menyambut sangat positif pembinaan KIM ini sebagai langkah konkret membekali para santri menghadapi disrupsi teknologi dan derasnya arus informasi digital yang bergerak eksponensial.” tegas Rivqil.
Kami berharap santri tidak hanya adaptif menggunakan teknologi secara bijak, tetapi juga memiliki ketajaman intelektual untuk memverifikasi informasi serta menyebarkan nilai-nilai kebenaran,” pungkasnya.
