Napak Tilas Mahkota Binokasih, Pesan Dedi Mulyadi Tentang Identitas dan Masa Depan Cirebon

Gubernur-Dedi-Mulyadi
Prosesi Kirab Budaya Mahkota Binokasih di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, Milangkala Tatar Sunda 2026. Foto: Humas Kota Cirebon

CIREBONINSIDER.COM – Jalanan Kota Cirebon mendadak menjelma menjadi hamparan sejarah yang hidup pada Minggu malam (10/5/2026). Ribuan pasang mata terpaku pada kilau replika Mahkota Binokasih yang diarak dalam prosesi bertajuk Napak Tilas Padjadjaran: Mahkota Bertahta Cinta.

Lebih dari sekadar perayaan tahunan Milangkala Tatar Sunda, kirab ini mengirimkan pesan kuat tentang rekonsiliasi budaya dan arah pembangunan Jawa Barat ke depan.

Jembatan Ideologi: Masa Lalu untuk Masa Depan

Memulai rute dari gedung ikonik BAT hingga berakhir di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan, iring-iringan ini disambut gegap gempita.

Baca Juga:Napak Tilas Hari Jadi Ke-543 Kabupaten Cirebon, Bupati Imron: Jangan Lupakan SejarahWajah Baru Kota Tua Cirebon: Kirab Mahkota Binokasih 10 Mei Jadi Awal Revolusi Heritage!

Alunan musik tradisional dan tari-tarian daerah tidak hanya menjadi tontonan, melainkan pengingat akan kekayaan identitas yang masih berdenyut di tanah para wali.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang hadir langsung di tengah masyarakat, menegaskan bahwa kebudayaan adalah “ruh” dari pembangunan fisik.

Ia menyoroti pentingnya memahami sejarah bukan sebagai romantisme belaka, melainkan sebagai kompas ideologi.

“Kita sedang membangun jembatan antara masa lalu dan masa depan. Masa lalu adalah filosofi dan ideologi kita, sedangkan masa depan adalah tantangan yang harus kita taklukkan tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya,” tegas Dedi di hadapan warga.

Cirebon sebagai Laboratorium Pluralisme

Dedi juga memuji Cirebon sebagai miniatur pluralisme Indonesia. Menurutnya, kota ini adalah tempat di mana nilai kewalian, keterbukaan agama, dan pelestarian alam bertemu dalam harmoni yang inklusif.

Sebagai komitmen nyata, Gubernur berencana memperkuat wajah kota melalui pembangunan gapura-gapura budaya di setiap gang di Kota Cirebon.

“Kita harus mengembalikan kewibawaan kota ini. Pembangunan yang berlandaskan karakter budaya akan melahirkan masyarakat yang cerdas secara jati diri,” tambahnya.

Baca Juga:Jemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026Di Balik Estafet Mahkota Binokasih: Dedi Mulyadi "Sidak" Pohon dan Tebing di Jalur Sumedang-Ciamis

Harapan dari Balik Gerbang Keraton

Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menyambut optimisme tersebut dengan rasa syukur. Baginya, suksesnya kirab yang berlangsung tertib dan damai ini adalah bukti bahwa masyarakat Cirebon sangat mencintai warisan leluhurnya.

​”Alhamdulillah, ini bukan hanya hiburan. Ini adalah momentum memperkuat rasa memiliki. Budaya adalah pondasi utama kami dalam menata masa depan Kota Cirebon agar tetap memiliki ‘nyawa’ di tengah modernisasi,” ungkap Effendi.

0 Komentar