CIREBONINSIDER.COM– Narasi Kabupaten Cirebon sebagai “pemasok” Pekerja Migran Indonesia (PMI) perlahan mulai bergeser.
Kehadiran sektor manufaktur di tanah wali kini bukan sekadar angka investasi, melainkan harapan baru bagi para orang tua agar anak-anak mereka tak perlu lagi merantau jauh ke negeri orang.
​Berdasarkan data integrasi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) dan BPS per September 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Cirebon melandai ke angka 6,42%.
Baca Juga:BPS Ungkap Sektor Penyumbang Inflasi  Paling Tinggi di Cirebon pada Juni 2025157 Perusahaan Dilaporkan 'Nunggak' THR 2026, Disnakertrans Jabar Siapkan Sanksi Pembatasan Usaha
Keberhasilan ini didorong oleh serapan sekitar 12.000 tenaga kerja di sektor manufaktur sepanjang tahun ini.
​Suara dari Desa: Harapan yang Tumbuh
​Realitas ini dirasakan langsung oleh warga di tingkat akar rumput. Seorang perempuan berusia 45 tahun asal Cirebon, yang meminta identitasnya dirahasiakan, berbagi kisahnya.
Mantan TKW Arab Saudi ini melihat perbedaan besar antara zamannya dengan kondisi saat ini.
​”Kondisi sekarang sudah sedikit lebih baik. Anak-anak sekarang punya kesempatan kerja di wilayah sendiri, beda dengan kami dulu yang harus jadi TKW untuk menyambung hidup,” ungkapnya dengan nada penuh syukur.
​Bagi warga desa seperti dirinya, keberadaan pabrik-pabrik lokal adalah penyelamat keutuhan keluarga. Bekerja di daerah sendiri berarti tak ada lagi anak yang harus tumbuh tanpa dekapan ibu.
​Manufaktur Sebagai Penopang Ekonomi Lokal
​Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendriyanto, menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat ekosistem industri dalam negeri.
Meski belum sebesar Bekasi atau Karawang, pertumbuhan 12.000 lapangan kerja manufaktur di 2025 adalah sinyal bahwa Cirebon makin kompetitif.
Baca Juga:Gedung Disnaker Kota Cirebon Ambruk: DPRD Desak Perbaikan Cepat, Bongkar Teka-teki Aset dan Opsi Dana BTT!Insiden Atap Disnaker Cirebon: 'Bom Waktu' di Balik Salah Pilih Material Bangunan
​“Tujuannya jelas, kita ingin investasi ini berdampak langsung pada masyarakat lokal. Namun, tantangan kita masih besar. Ada sekitar 60.000 pencari kerja yang masih perlu difasilitasi,” ujar Novi.
Menjaga Iklim Kerja yang Manusiawi
​Agar sektor manufaktur benar-benar menjadi solusi jangka panjang, Pemkab Cirebon kini memperketat pengawasan melalui Forum LKS Tripartite.
Fokusnya bukan lagi sekadar “asal kerja”, tapi perlindungan hak, terutama bagi pekerja perempuan.
​Sesuai visi RPJMD, perusahaan diwajibkan menyediakan fasilitas laktasi dan menjamin lingkungan kerja yang bebas dari pelecehan seksual.
“Kita ingin ekosistem yang sehat. Jika lingkungan kerjanya nyaman dan perlindungan hukumnya jelas, masyarakat tidak perlu lagi mencari peruntungan di luar negeri dengan risiko tinggi,” tambah Novi.
