CIREBONINSIDER.COM – Kawasan heritage Kota Tua Cirebon bersiap menjadi saksi bisu kemegahan sejarah. Perhelatan Milangkala Tatar Sunda 2026 yang akan digelar pada Minggu malam, 10 Mei 2026, bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum besar untuk membangkitkan kembali “marwah” estetika Kota Udang.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, bersama tim Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan inspeksi final di sepanjang rute kirab budaya, Kamis (7/5/2026).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap jengkal jalur yang akan dilalui delegasi dari 27 kabupaten/kota dalam kondisi prima.
Baca Juga:Menbud ke Keraton Kasepuhan dan Rencana Transformasi Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Jadi Taman BudayaJemput Spirit Pajajaran: Mahkota Binokasih 'Pulang' ke Bogor, Simbol Kebangkitan Identitas Sunda 2026
Misi “Nyuhun Buhun, Nata Nagara”
​Mengusung tema “Nyuhun Buhun, Nata Nagara”, acara ini menempatkan Mahkota Binokasih sebagai simbol sentral.
Napak tilas sejarah ini diharapkan mampu mengikat kembali tali persaudaraan masyarakat Sunda sekaligus memicu semangat penataan daerah yang lebih terintegrasi.
“Alhamdulillah, koordinasi berjalan lancar. Hari ini kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan apa yang masih kurang bisa segera kita benahi dalam waktu singkat ini,” ujar Effendi Edo saat meninjau titik start di kawasan Gedung Bank Indonesia (BAT).
​Sterilisasi Jalur: Perang Terhadap Vandalisme
​Salah satu poin krusial dalam persiapan ini adalah penataan estetika. Wali Kota menegaskan akan menindak tegas coretan vandalisme yang mengotori fasad bangunan tua di sepanjang rute kirab.
Melalui surat edaran resmi, para pemilik toko diminta berpartisipasi mengecat kembali properti mereka agar suasana heritage terasa lebih hidup.
​”Cirebon akan kedatangan tamu dari seluruh penjuru Jawa Barat. Kita ingin tunjukkan wajah kota yang bersih. Selain pembersihan vandalisme, titik-titik jalan berlubang juga sedang dikebut pengerjaannya dengan dukungan dari Provinsi,” tambahnya.
​Jejak Revitalisasi Pasca-Acara
​Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda, Dedi Supandi, mengungkapkan visi yang lebih jauh. Menurutnya, kirab ini adalah stimulan bagi proyek besar revitalisasi kawasan Kota Tua.
Baca Juga:Menggugat Lupa: Sejarah 669 Masehi di Balik Keputusan Dedi Mulyadi Tetapkan Hari Tatar SundaIkon Baru Seni Budaya Sunda: Geoteater Rancakalong Sumedang Disiapkan Setara GWK Bali
​”Output-nya tidak boleh berhenti di malam perayaan saja. Kami ingin ada keterikatan yang kuat antara Provinsi dan Kota. Mulai dari penerangan jalan, trotoar, hing yangga wajah kawasan heritage secara keseluruhan akan terus kita dorong agar lebih nyaman,” jelas Dedi.
