CIREBONINSIDER.COM – Kawasan Gelora Bung Karno (GBK) Senayan berhasil memecahkan rekor finansial tertinggi sepanjang 63 tahun sejarah berdirinya.
Di bawah tata kelola Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pengelolaan Kompleks GBK (PPKGBK), aset negara yang dibangun sejak era Presiden Soekarno ini sukses mencetak pendapatan fantastis sebesar Rp812 miliar pada tahun buku 2025 berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit (audited).
​Angka ini menandai lonjakan masif dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang bertengger di posisi Rp566 miiliar. Jika ditarik lebih jauh ke masa pascapandemi pada tahun 2022 yang hanya menyentuh Rp255 miliar, grafik keuangan GBK praktis meroket hampir empat kali lipat hanya dalam kurun waktu tiga tahun.
Baca Juga:Ketum PSSI Erick Thohir Pastikan SUGBK Siap untuk Laga Indonesia vs AustraliaManipulasi Data Sensus Ekonomi 2026 Jadi Bom Waktu, DPR Sentil BPS Solo soal Nasib Kaum Dhuafa
​Lompatan performa ini menjadi bukti konkret bahwa modernisasi pengelolaan aset negara bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang nyata.
​Transformasi dari Gelanggang Olahraga ke Episentrum MICE Global
​Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi A Kusumo, mengungkapkan bahwa keberhasilan finansial ini didorong oleh keberanian mengubah paradigma kawasan. GBK tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai arena olahraga yang kaku, melainkan ruang multi-fungsi terintegrasi (integrated multi-use space).
​Sepanjang tahun lalu, GBK sukses bertransformasi menjadi magnet utama industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), panggung konser musisi internasional, festival budaya raksasa, hingga pusat aktivitas komersial makro yang produktif.
​“Alhamdulillah, capaian ini menjadi dorongan besar bagi kami untuk terus menjaga amanah pengelolaan kawasan GBK secara profesional, tertib, dan memberikan manfaat nyata bagi negara serta publik,” ujar Rakhmadi dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
​Direktur Keuangan PPKGBK, Hendry Arisandi, menambahkan bahwa pertumbuhan eksponensial ini sekaligus mencerminkan pulihnya daya beli korporasi global dan domestik, serta tingginya kepercayaan mitra strategis terhadap ekosistem bisnis di jantung ibu kota.
​Mengapa Angka Rp812 Miliar Ini Penting Bagi Publik?
​Bagi masyarakat awam, angka ratusan miiliar tersebut mungkin terasa abstrak. Namun, dalam kacamata tata kelola keuangan negara, performa PPKGBK ini menetapkan standar baru (benchmark) yang krusial.
​Keberhasilan ini membuktikan bahwa aset publik bernilai historis tinggi mampu mandiri secara finansial tanpa terus-menerus menyusu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
