​Ia menegaskan, gerakan pengumpulan donasi dan gotong royong ini sama sekali bukan untuk memegahkan bangunan fisik demi kesombongan arsitektur.
​”Pada dasarnya, Ki Buyut tidak butuh kemegahan bangunan. Namun, manfaat dari fasilitas yang layak dan aman ini nantinya akan kembali kepada mereka yang datang berziarah, baik warga pribumi sendiri maupun saudara-saudara kita dari daerah lainnya,” pungkas Wahyu.
​Bagi masyarakat, donatur swasta, instansi purbakala, maupun para PMI asal Desa Grogol, Karangkendal, dan sekitarnya yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya demi kelancaran revitalisasi situs sejarah kebanggaan warga Kapetakan ini, dapat langsung menyalurkannya melalui pihak pengelola atau kepanitiaan resmi di lokasi situs.(*)
