CIREBONINSIDER.COM – Di balik deru kendaraan jalur Pantai Utara (Pantura), sebuah fragmen peradaban yang eksis jauh sebelum era Syekh Magelung Sakti kini tengah berpacu dengan waktu.
Situs Buyut Krayunan dan Nyi Selawe di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, resmi memasuki tahap rehabilitasi total guna menjaga marwah sejarah “Pribumi Awal” wilayah tersebut.
Langkah penyelamatan ini bukan sekadar renovasi fisik. Struktur bangunan yang dimakan usia kini berada dalam kondisi kritis; kayu penyangga atap yang mulai melapuk menciptakan ancaman nyata bagi keselamatan peziarah.
Baca Juga:Pembongkaran Jembatan Kereta Api di Sukalila: Antara Ambisi Normalisasi Sungai dan "Penghapusan" Jejak SejarahCirebon Kini 'Migrasikan' Sejarah ke Ruang Digital, Wali Kota: Hapus Ego Sektoral!
Rehabilitasi ini adalah langkah tanpa tawar demi memastikan warisan lisan dan keagungan para leluhur tetap tegak bagi generasi masa depan.
Lampaui Mitos: Keagungan Nyi Selawe dan Jejak Ki Gedeng Alang-Alang
Situs ini menyimpan unique value yang jarang terdokumentasi dalam buku sejarah formal. Sosok Buyut Krayunan (Ki Tarsiman) dan istrinya, Nyi Selawe, diyakini sebagai pasangan “Manusia Pertama” yang membuka hutan (babat alas) di Karangkendal—wilayah induk sebelum pemekaran Desa Grogol.
Sebutan “Nyi Selawe” menjadi poin sentral yang mengandung nilai keagungan bagi masyarakat setempat.
Nama tersebut merujuk pada sejarah tutur di mana beliau mengasuh 24 anak manusia sekaligus menyusui seekor kerbau putih (bule) kesayangan keluarga.
Total 25 (selawe) asuhan inilah yang melahirkan gelar sakral bagi sosok perempuan agung penjaga gerbang peradaban Cirebon Utara tersebut.
Secara kronologi sejarah, keberadaan pasangan ini memiliki bobot historis tinggi karena diduga kuat sezaman dengan Ki Gedeng Alang-Alang, sang pendiri awal Cirebon.
Mereka telah membangun fondasi pemukiman jauh sebelum kedatangan ulama besar asal Syam, Syekh Magelung Sakti (Pangeran Soka), yang diutus Sunan Gunung Jati untuk berdakwah di pesisir utara.
Baca Juga:GELAR PAHLAWAN 2025: Prabowo Anugerahi Gus Dur dan Marsinah, Soeharto Picu Titik Balik Kontroversi SejarahBosan Cirebon Cuma Jadi Pajangan Sejarah, Effendi Edo Desak Revolusi 'Living Heritage'
Rehabilitasi Kolektif: Menolak Punah Lewat Musyawarah
Kuncen (pengurus situs), Wahyu, menegaskan bahwa keputusan rehabilitasi ini lahir dari kegelisahan kolektif masyarakat yang melihat fisik situs kian memprihatinkan.
”Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Jika kami tidak segera bertindak, kita bukan hanya kehilangan bangunan, tapi kehilangan bukti fisik dari sejarah leluhur kita,” ujar Wahyu saat ditemui di lokasi pembangunan, Selasa (14/04).
