Di Ambang El Nino, Indramayu Putar Otak Amankan Harga Pangan dan Keuangan Daerah

Bupati-Indramayu-Lucky-Hakim
Bupati Indramayu Lucky Hakim (kanan, via Zoom) memberikan arahan pada High Level Meeting TPID dan TP2DD Tahun 2026 yang dihadiri jajaran Pemkab Indramayu di Aula BKAD (kiri), membahas strategi pengendalian inflasi pangan dan percepatan digitalisasi ekonomi daerah. Foto: Istimewa/Doc. Pemkab Indramayu

CIREBONINSIDER.COM– Status Kabupaten Indramayu sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Barat kini sedang diuji. Di tengah ancaman nyata fenomena iklim El Nino yang berpotensi memukul produktivitas pertanian, pemerintah daerah dipaksa memutar otak lebih keras.

​Bukan sekadar menjaga agar sawah tetap berproduksi, tetapi juga memastikan harga pangan di pasar tradisional tidak melonjak liar yang bisa mencekik daya beli masyarakat bawah.

​Menyikapi urgensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon menggelar High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Tahun 2026.

Baca Juga:Sinergi Lawan Inflasi: 35 Ribu Warga Kota Cirebon Terima Rapel Bantuan Pangan, Stok Aman hingga Akhir MaretEl Nino 2026: Ancaman Kemarau Ekstrem Bayangi Indramayu, Stok Beras Nasional Dipertaruhkan

​Acara yang berlangsung di Aula Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Indramayu pada Kamis (18/6/2026) ini menjadi momen krusial, mengingat semester pertama tahun 2026 diwarnai oleh fluktuasi harga pangan yang cukup ekstrem.

​Paradoks Lumbung Pangan: Cabai Merah dan Beras Jadi Pemicu Utama

​Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu, sepanjang paruh pertama tahun ini Indeks Perkembangan Harga (IPH) lokal bergerak sangat dinamis.

Kepala BPS Indramayu, Dudi Barmana, mengungkapkan bahwa komoditas yang paling getol mengguncang stabilitas inflasi adalah cabai merah, disusul oleh beras, daging, dan telur ayam.

​”Sepanjang semester pertama tahun 2026 terjadi fluktuasi harga pangan yang cukup tinggi. Diperlukan upaya pengendalian harga secara berkelanjutan guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” ungkap Dudi Barmana saat memaparkan analisisnya.

​Tantangan ini diprediksi bakal semakin berat di paruh kedua tahun. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengingatkan adanya alarm dari faktor eksternal, yakni potensi El Nino.

Efek domino dari cuaca ekstrem ini dipastikan bakal langsung menghantam sektor hulu pertanian Indramayu jika tidak diantisipasi dari sekarang.

​”Target inflasi tahun 2026 ditetapkan pada kisaran 2,5% (1,5 hingga 3,5 persen). Diperlukan langkah bersama untuk menjaga keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi pangan, terutama di tengah meningkatnya tekanan harga komoditas seperti bawang, cabai, dan beras,” tegas Wihujeng.

​Taktik Pemerintah Daerah: Dari Gerakan Tanam Cabai Hingga OPADI

0 Komentar