​Revolusi Lele Bioflok Blora, Solusi KKP Kunci Rantai Pasok Protein Makan Bergizi Gratis

Menteri-KKP-Sakti-Wahyu-Trenggono
Menteri Sakti Wahyu Trenggono bersama pejabat KKP menyebarkan benih ikan lele dari baskom besar ke dalam salah satu kolam bioflok beralas terpal biru di lokasi budidaya Blora, Jawa Tengah, untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Foto: Screenshot Instagram KKP

CIREBONINSIDER.COM — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi memutar kemudi strategi perikanan budidaya nasional. Tak lagi sekadar mendorong lonjakan produksi, KKP kini mengunci kepastian pasar pembudidaya lokal langsung ke program strategis nasional: Makan Bergizi Gratis (MBG).

​Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dipilih menjadi medan pembuktian awal lewat pengembangan budidaya lele berbasis teknologi bioflok tematik.

Kunci Pasar, Hapus Spekulasi Harga

​Masalah klasik pembudidaya lele selalu berkutat pada dua titik tekan: lonjakan harga pakan dan permainan harga di tingkat tengkulak. Model terintegrasi yang digagas KKP hadir untuk memutus mata rantai masalah tersebut.

Baca Juga:​Putusan MK Jadi Momentum, DPR Desak MBG Fokus Kelompok Rentan, Hemat APBN Ratusan TriliunEfek Jeda MBG dan Panen Raya, Harga Ayam-Bawang Anjlok, Jabar Deflasi 0,05 Persen

​Di Blora, sebanyak 24 unit kolam bioflok berdiameter empat meter telah dibangun. Langkah ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan pembentukan ekosistem produksi yang terhubung langsung ke penyerap resmi.

​”Melalui penguatan kelembagaan dan kemitraan, hasil produksi perikanan memiliki kepastian pasar sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi bagi masyarakat,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

​Rantai Pasok Langsung ke Empat Titik SPPG

​Seluruh hasil panen lele bioflok dari kawasan ini diproyeksikan langsung mengisi ceruk kebutuhan protein bagi empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Blora.

​Pasokan pangan segar ini disalurkan secara terukur ke SPPG Kamolan, SPPG Banjarejo, SPPG Mojowetan, hingga SPPG Gempolrejo.

​Integrasi hulu-ke-hilir ini menciptakan skenario saling menguntungkan. Pembudidaya mendapat jaminan pembeli siaga (offtaker), sementara unit SPPG memperoleh kepastian bahan baku segar berprotein tinggi tanpa tergantung rantai pasok luar daerah.

​Keunggulan Bioflok: Hemat Air, Tinggi Nutrisi

​Teknologi bioflok dipilih bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan iklim dan efisiensi lahan, sistem ini mengandalkan mikroorganisme untuk mengolah limbah budidaya menjadi gumpalan nutrisi yang bisa dimakan kembali oleh ikan.

​Dampaknya sangat nyata. Biaya pakan (Feed Conversion Ratio) bisa dipangkas hingga 15–20 persen. Selain itu, kepadatan tebar ikan menjadi jauh lebih tinggi meski berada di lahan terbatas.

Baca Juga:BGN Naikkan Status Keracunan MBG Jadi Kejadian Fatal, Dapur Langsung Di-Suspend, Kepala SPPG Dicopot​Mas Dar Sapu Bersih Rekening 'Hantu' MBG Rp311 Miliar, Sinyal Tegas BGN Safeguard Uang Negara

​Sisi kualitas pun melonjak. Daging lele hasil sistem bioflok terbukti lebih padat, tidak berbau lumpur, dan menyimpan kandungan gizi optimal yang sangat aman serta sehat untuk konsumsi anak-anak.

0 Komentar