​HET Minyak Goreng Subsidi cuma Kertas, Pasar Tembus Rp22 Ribu, DPR Semprot Kemendag

HET-Minyak-Goreng-Subsidi
Pedagang pasar tradisional menata minyak goreng kemasan subsidi di tengah lonjakan harga di atas HET. Foto: Ilustrasi AI

​CIREBONINSIDER.COM — Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng subsidi kembali menjadi macan kertas. Di atas dokumen resmi Kementerian Perdagangan, harga minyak goreng kemasan subsidi dipatok Rp15.700 per liter. Namun di lapak-lapak pasar tradisional, rakyat harus merogoh kocek hingga Rp21.000 sampai Rp22.000 per liter.

​Selisih mencapai Rp6.000 per liter ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah beban nyata yang menggerogoti dapur rumah tangga dan memukul pelaku usaha mikro.

​Anomali harga yang terus berulang ini memicu kritik keras dari parlemen. Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti An’am, mempertanyakan taji pengawasan pemerintah yang dinilai mandul di lapangan.

Baca Juga:​Lawan Krisis Minyak Dunia, Indonesia Mulai Disuntik Hidrogen: Bus Fosil Disulap dan Koridor 194 Km Dibuka!DPR Tagih Skema Baru BBM: Minyak Dunia Turun, Harga di SPBU Jangan Ditahan!

​“Aturan HET dibuat untuk melindungi rakyat dan menekan spekulan. Kalau di pasar harganya tembus Rp22.000 dan tidak ada tindakan, buat apa aturan itu ada?” tegas politisi PDI-Perjuangan tersebut dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perdagangan di Senayan, Jakarta belum lama.

​Janji Regulasi vs Realitas Pahit di Lapangan

​Jurang pemisah antara angka di atas kertas dan harga di meja pedagang makin melebar tajam:

– ​Patokan Resmi vs Harga Riil: Pemerintah menetapkan acuan minyak goreng subsidi Rp15.700 per liter. Tapi di tingkat eceran, harga melonjak drastis hingga 33 persen sampai 40 persen lebih mahal.

– ​Klaim Pasokan vs Kelangkaan: Kementerian Perdagangan mengklaim stok nasional aman. Kenyataannya, pedagang kecil kesulitan mendapatkan pasokan harga murah.

– ​Dilema Pedagang Eceran: Pengecer sering dijadikan kambing hitam, padahal mereka terpaksa menjual mahal karena modal dari distributor sudah tinggi.

​3 Simpul Masalah Pemicu Harga Liar

​Mengapa HET selalu jebol dan tak ditakuti di pasar? Ada tiga masalah utama di rantai pasok:

Pertama, ​Rantai Distribusi Berlapis: Pasokan dari produsen melewati agen informal yang terus menaikkan marjin sebelum sampai ke pedagang pasar.

Baca Juga:Efek Domino B50 dan Minyak Dunia $73: Skenario Jitu Penyelamat APBN 2027Tinggalkan Timur Tengah? Ini Peta Baru Impor LPG dan Minyak Mentah Indonesia

Kedua, ​Modal Eceran Sudah Tinggi: Pedagang pasar membeli pasokan di harga yang mendekati atau bahkan melebihi HET. Memaksa mereka menaikkan harga jual demi menutup modal.

Ketiga, ​Penegakan Hukum Tumpul: Belum ada sanksi tegas dan konsisten bagi distributor besar yang menjual di atas acuan resmi.

0 Komentar