CIREBONINSIDER.COM – Cirebon Utara tidak pernah kehabisan cerita tutur yang melampaui batas logika modern. Di balik rimbunnya kisah para wali, terdapat sebuah narasi besar tentang kosmologi sejarah yang tersimpan rapi di kompleks makam keramat Karang Krayunan.
Secara administratif modern, Situs Ki Buyut Selawe ini terletak di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Bagi masyarakat setempat, wilayah ini merupakan area pemekaran dari Desa Karangkendal selaku desa induk historisnya.
Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, sejarah lisan dari situs tertua di tanah pemekaran Grogol ini menyimpan rangkaian simbolisme yang secara mengejutkan bertautan dengan dinamika geopolitik Indonesia modern.
Baca Juga:Kekurangan Anggaran, Aula Doa Situs Buyut Selawe Cirebon Rampung 75% lewat Keringat PMI dan Kencleng SukarelaRevitalisasi Situs Buyut Selawe Mandek, Anggota DPRD Jabar Asyrof Abdik Dorong Sinergi Lintas Desa
Dua Karang, Utusan Mataram, dan Gelar Selawe
Secungkil fakta geografis-historis mencatat, wilayah Karangkendal purba—yang kini arenya telah berkembang menjadi Desa Grogol—terbelah oleh sebuah aliran sungai kecil menjadi dua bagian lahan (karang). Sisi utara dinamakan Karang Krayunan, sementara sisi selatan disebut Karang Brai. Karena menetap di wilayah utara itulah, sang tokoh kemudian digelari Ki Krayunan.
Meskipun saat ini makam keramat tersebut secara sah berada di bawah peta wilayah Desa Grogol, keterikatan historisnya dengan Karangkendal sebagai tanah induk tidak bisa dipisahkan.
Latar belakang historisnya pun memiliki dua versi yang sama kuat. Sebagian naskah lokal menyebut beliau menerima tanda kepangkatan langsung dari Raden Walangsungsang (Mbah Kuwu Cirebon). Namun, versi lain mencatat jurnalisme tutur bahwa sang sesepuh sejatinya adalah Ki Tarsiman, seorang perwira utusan dari Kerajaan Islam Mataram.
Perjalanan hidup Ki Tarsiman memasuki babak baru saat memperistri Nyi Sekar Kedaton, putri dari ulama terpandang Ki Sunan Kedaton asal Jawa Tengah. Dari pernikahan lintas wilayah inilah, lahir manifesto besar berupa 25 anak, yang dalam bahasa Jawa disebut selawe. Dari sinilah nama Ki Buyut Selawe abadi dalam ingatan zaman.
Hubungan Mistis Orde Baru dan Lepasnya Timor Leste
Ada satu fragmen ingatan kolektif yang dijaga ketat oleh Juru Kunci (Kuncen) Situs, Wahyu. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nama dan silsilah Buyut Selawe mendadak menjadi episentrum keyakinan mistis para orang tua di pesisir utara Cirebon.
