Jejak Asimilasi Tionghoa-Muslim dalam Silsilah Cirebon
Ketajaman sejarah Ki Buyut Selawe tidak berhenti pada mistisisme angka provinsi. Silsilah anak-anaknya membuktikan bahwa Cirebon sejak abad lampau adalah laboratorium asimilasi budaya dan suku yang luar biasa.
Keturunannya menyebar luas membentuk peradaban di sepanjang jalur Pantura. Ada sosok Nyi Kersa yang memilih menetap hingga akhir hayat demi menyebarkan nilai luhur di Desa Wanakersa, Cimalaya, Karawang. Ada pula Nyi Ranggu yang menancapkan pengaruh gerak dakwahnya di Blok Kombo, Desa Jati Mulya, Cikedung, Indramayu.
Namun, salah satu jejak asimilasi yang paling memikat terwujud melalui kisah Nyi Banjar. Ia memilih menikah dengan seorang Muslim keturunan Tionghoa bernama Wie Lie Tan—yang oleh lidah lokal Cirebon disederhanakan pelafalannya menjadi Wiletan.
Baca Juga:Kekurangan Anggaran, Aula Doa Situs Buyut Selawe Cirebon Rampung 75% lewat Keringat PMI dan Kencleng SukarelaRevitalisasi Situs Buyut Selawe Mandek, Anggota DPRD Jabar Asyrof Abdik Dorong Sinergi Lintas Desa
Tokoh Wiletan inilah yang kemudian dipercaya menerima warisan adiluhung berupa Bareng Jimat langsung dari Ki Krayunan, hingga dirinya digelari Ngabei Banjar Wiletan.
Pernikahan kultural antara Nyi Banjar dengan Wie Lie Tan melahirkan dua anak yang namanya terpatri kokoh dalam cerita rakyat, yakni Surabranti dan Surabraja.
Keduanya terkenal memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Sang adik, Surabraja, di masa senjanya memilih menetap dan menjaga harmoni warga di Blok Bakung Alas, Desa Bakung, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon.
Melalui narasi panjang Ki Buyut Selawe, kita belajar bahwa merawat situs sejarah lokal bukan sekadar urusan ziarah kubur atau mistis belaka. Di dalamnya ada rekam jejak toleransi, asimilasi etnis, hingga cara masyarakat Nusantara membaca tanda-mana zaman melalui kearifan lokal yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.(*)
