Menguak Misteri Ki Buyut Selawe Cirebon: Kisah 'Kebo Bule' dan Logika Mistis Lepasnya Timor Leste

Situs-Buyut-Selawe
Suasana interior ruang aula doa di Situs Ki Buyut Selawe, Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, yang pembangunannya baru menyentuh angka 75 persen. Proyek darurat untuk mengamankan atap lapuk ini masih mengandalkan swadaya mandiri masyarakat dan pekerja migran (PMI) akibat absennya anggaran resmi pemerintah. Foto: Subadi/Cirebon Insider

​Para sesepuh zaman Orde Baru itu memiliki keyakinan teguh bahwa 25 anak Ki Buyut Selawe merupakan representasi gaib dari jumlah provinsi di Indonesia kala itu. Konon, masing-masing anak “menjaga” dan tersebar di tiap-tiap jengkal provinsi NKRI.

​”Menariknya, para orang tua dulu sempat melontarkan prediksi ekstrem: kelak, dari 25 provinsi itu akan berkurang satu,” ungkap Wahyu menirukan tutur para pendahulu.

​Ramalan mistis lokal itu menemukan momentum kebenarannya di era reformasi. Di bawah pemerintahan Presiden BJ Habibie, wilayah Timor-Timur resmi memisahkan diri melalui referendum dan kini menjadi negara berdaulat Timor Leste.

Baca Juga:Kekurangan Anggaran, Aula Doa Situs Buyut Selawe Cirebon Rampung 75% lewat Keringat PMI dan Kencleng SukarelaRevitalisasi Situs Buyut Selawe Mandek, Anggota DPRD Jabar Asyrof Abdik Dorong Sinergi Lintas Desa

​Bagi para sepuh Grogol dan Karangkendal, takdir politik itu tidak mengejutkan. Mereka memajang logika spiritual sendiri: satu dari keduapuluh lima anak Buyut Selawe memang bukan anak kandung, melainkan seekor Kebo Bule (kerbau putih). Sesuatu yang “berbeda dari asal-usulnya” secara alamiah akan kembali ke jalurnya sendiri.

​Altar Kasih Ibu, Misteri Kebo Bule, dan Kolam Singkil

​Legenda menyusunya kebo bule ini adalah puncak keunikan dari Situs Karang Krayunan. Dikisahkan, anak kandung Ki Tarsiman dan Nyi Sekar Kedaton sebenarnya berjumlah 24 orang.

​Suatu hari, di tengah kesibukan mengumpulkan kayu bakar sembari merawat puluhan anaknya, Nyi Sekar Kedaton (Nyi Buyut Selawe) membiarkan bayinya menyusu dengan bebas. Tanpa disadari, seekor anak kerbau bule yang sedang merumput mendekat dan ikut menyusu dari sang ibu.

​Alih-alih mengusirnya dengan kasar, keluhuran hati sang ibu pesisir justru membuncah. Sadar makhluk tersebut ikut meminum air susunya, Nyi Buyut Selawe secara resmi mengangkat kerbau putih itu menjadi anak ke-25 miliknya. Keduapuluh lima anak tersebut kini diyakini bersemayam bersama di kompleks makam keramat Karang Krayunan.

​Bukti kedalaman kasih sayang Nyi Selawe terhadap anak angkat “uniknya” itu tidak berhenti pada air susu ibu (ASI). Sang buyut bahkan memberikan fasilitas berupa tempat pemandian khusus yang didedikasikan mutlak untuk sang kebo bule.​Jejak kasih itu masih abadi hingga hari ini di kompleks situs.

Warga lokal dan peziarah mengenalnya sebagai kolam “Singkil”, yang juga kerap dijuluki masyarakat sekitar sebagai Sumur Pendadaran. Keberadaan kolam kuno ini menjadi saksi bisu bagaimana peradaban Cirebon lawas memuliakan makhluk hidup dan menjaga keharmonisan alam.

0 Komentar