​Perang Bunga Deposito Bank BUMN saat Ekonomi Global Memanas: Pilih BRI, BNI, atau Mandiri?

Ilustrasi-grafik-suku-bunga-deposito-bank
​Grafik suku bunga deposito bank BUMN BRI BNI Mandiri dan aplikasi m-banking di smartphone. Foto: Ilustrasi/ AI

CIREBONINSIDER.COM – ​Guncangan ekonomi global kembali terasa. Perang geopolitik yang meluas, lonjakan harga minyak mentah Brent yang mendekati US$ 100 per barel, hingga potensi era higher for longer dari bank sentral dunia gagal mendongkrak imbal hasil deposito perbankan tanah air.

Memasuki minggu ketiga September 2026, bank-bank papan atas milik negara (Himbara) justru memilih bertahan dengan strategi bunga yang cenderung makin landai.

​Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi para pemilik dana. Ketika inflasi global mengintai dan Bank Indonesia (BI) sempat agresif menaikkan suku bunga acuan hingga 100 bps dalam rentang waktu singkat, mengapa imbal hasil simpanan di bank BUMN tidak ikut meroket?

Baca Juga:Suku Bunga Mekaar Anjlok 8 Persen, Wirausaha Perempuan Kuasai Rp201 Triliun KUR 2026Pasar Sambut Menkeu Baru, Saham Bank Jumbo Langsung Meroket Usai Reshuffle Kabinet

​Dilema Likuiditas dan Paradoks Bunga Simpanan

​Kenaikan suku bunga acuan BI sejatinya menjadi penanda ketatnya likuiditas pasar. Melemahnya rupiah serta melonjaknya imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) menuntut perbankan berputar otak. Bunga SBN yang makin menggiurkan otomatis menarik dana-dana besar keluar dari perbankan.

​Namun, alih-alih menaikkan suku bunga deposito secara agresif demi menahan dana nasabah, bank Himbara justru mengambil langkah berlawanan:

– ​Fokus Efisiensi Dana: Bank BUMN memprioritaskan penekanan Biaya Dana (Cost of Funds). Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) bernilai murah (CASA) tetap menjadi tumpuan utama.

– ​Proteksi LPS: Deposito di bank BUMN tetap diminati berkat jaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan batas bunga penjaminan di level 3,75%.

– ​Menanti Sinyal FOMC: Arah kebijakan The Fed pada rapat FOMC September 2026 menjadi kalkulasi krusial sebelum bank memutuskan arah suku bunga selanjutnya.

​Peta Bunga Deposito Ritel Himbara Terbaru

​Pembaruan data resmi per Senin (14/9/2026) menunjukkan peta persaingan bunga deposito rupiah ritel yang makin ketat namun terukur.

​Bank Rakyat Indonesia (BRI)

BRI mencatatkan perubahan struktur yang cukup menonjol. Bunga tertinggi BRI saat ini dipatok sebesar 3,00% per tahun untuk tenor pendek 1, 3, dan 6 bulan. Menariknya, penempatan tenor panjang 12, 24, hingga 36 bulan justru terkoreksi menjadi 2,50% per tahun dari sebelumnya 3,00%. BRI juga tidak lagi menerapkan pembagian bunga berdasarkan tiering nominal.

Baca Juga:​Kredit Industri Pengolahan Melonjak 16,85 Persen, Sinyal Perbankan Nasional Makin SolidMenkeu Kucur Rp40 T Langsung ke Himbara, Amankan Bank, Selamatkan Koperasi Merah Putih

​Bank Negara Indonesia (BNI)

BNI tetap mempertahankan skema fleksibel tanpa membedakan tiering nominal simpanan, bahkan untuk deposito di bawah Rp100 juta. Tenor 1 bulan diberi imbal hasil 2,25% per tahun, lalu naik menjadi 2,50% untuk tenor 3 bulan. Penawaran tertinggi BNI berada di tenor 6 bulan sebesar 2,75% per tahun, sementara tenor 12 dan 24 bulan berada di angka 2,50%.

0 Komentar