Suku Bunga Mekaar Anjlok 8 Persen, Wirausaha Perempuan Kuasai Rp201 Triliun KUR 2026

Menteri-UMKM-Maman-Abdurrahman
Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat menyampaikan pemaparan akses pembiayaan inklusif dalam Pertemuan Tingkat Menteri UMKM APEC di Guangzhou, China. Foto: Tangkapan layar Instagram 

​CIREBONINSIDER.COM— Dompet usaha mikro perempuan Indonesia kini punya ruang bernapas jauh lebih lega. Dalam Pertemuan Tingkat Menteri UMKM APEC ke-32 di Guangzhou, China, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman membeberkan fakta krusial: sebanyak 51 persen penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) per 24 Agustus 2026 resmi dikuasai wirausaha perempuan.

​Dari total penyaluran Rp201 triliun yang telah menjangkau 3,1 juta debitur hingga pertengahan tahun ini, porsi terbesar terbukti ditopang kaum hawa. Capaian ini menegaskan posisi perempuan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan motor utama penggerak ekonomi keluarga dan kewirausahaan nasional.

​Suku Bunga Mekaar Anjlok ke 8 Persen

​Pemerintah tak hanya mengandalkan skema KUR untuk memperkuat pelaku usaha mikro. Langkah dramatis diambil lewat transformasi skema Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang selama ini menyasar kelompok perempuan prasejahtera.

Baca Juga:Awas Bunga Naik! Cek Aturan KUR Mandiri 2026 Sebelum Ajukan Pinjaman​Modal Usaha Cair Cepat, Cek Simulasi Cicilan KUR BRI September 2026 dan Trik Lolos Verifikasi

​Suku bunga Mekaar yang sebelumnya mencekik di kisaran 20 hingga 25 persen, dipangkas habis menjadi 8 persen mulai tahun ini. Pemotongan beban bunga secara signifikan ini menjadi angin segar yang langsung memangkas biaya modal usaha di tingkat tapak.

Pembiayaan murah ini dirancang agar kelompok usaha rentan tidak terpuruk di tengah jalan, melainkan bertransformasi menjadi unit bisnis yang mandiri dan tangguh.

​Pergeseran Historis ke Sektor Produktif

​Perubahan fundamental juga terlihat tajam dari arah aliran dana. Setelah pada 2025 lalu KUR mencatatkan rekor penyaluran Rp286 triliun kepada 4,5 juta UMKM, kini peta penyalurannya berubah total. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, porsi penyaluran ke sektor produktif menembus angka 60,5 persen.

​Aliran modal skala besar ini dialirkan langsung ke sektor-sektor krusial seperti pertanian, perikanan, dan manufaktur. Pemerintah sengaja menghentikan dominasi kredit ke sektor perdagangan konsumtif demi mendorong penciptaan nilai tambah ekonomi dan pembukaan lapangan kerja berkualitas.

Injeksi modal ke sektor produktif menjadi fondasi penting agar UMKM nasional tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mampu menembus rantai pasok regional.

​PRO-KESRA dan Target Rasio Kewirausahaan 8 Persen

​Melengkapi penguatan modal di lapangan, pemerintah meluncurkan program PRO-KESRA Produktif. Layanan terintegrasi lintas kementerian dan lembaga ini ditargetkan mampu memfasilitasi serta menyerap hingga 10 juta pelaku usaha maupun pekerja baru.

0 Komentar