Emas Hitam Indonesia, Limbah Batok Kelapa Pembawa Hoki Ratusan Miliar

Arang-batok-kelapa-dan-briket
Tumpukan karung arang batok kelapa dan briket kualitas ekspor di gudang industri dengan kontainer siap kirim ke pasar internasional. Foto: Ilustrasi/AI

​CIREBONINSIDER.COM— Tempurung kelapa tak lagi berakhir di tempat pembuangan. Limbah keras ini menjelma jadi ‘emas hitam’ yang paling diburu pasar internasional. Dari Malang, Klaten, hingga Batam, briket batok kelapa Indonesia sukses menembus rantai pasok global dengan potensi nilai transaksi ratusan miliar rupiah.

​Bukan tanpa alasan pasar global berebut. Peralihan dunia ke energi ramah lingkungan membuat briket tempurung kelapa jadi incaran utama pengganti batu bara, baik untuk kebutuhan industri besar maupun aktivitas panggangan di Eropa dan Amerika.

​Lompatan Ekspor dari Pelosok Daerah

​Geliat ekonomi ini dipicu oleh modernisasi pengolahan di tingkat daerah. Mutu yang terjaga membuat produk lokal tembus standar ketat negara tujuan.

Baca Juga:​Tinggalkan Sistem Angkut-Buang, Cirebon Adopsi Teknologi 'Gedung Sate' Olah Sampah Jadi BriketJangan Buru-buru Ekspor! Menteri UMKM Maman Peringatkan Risiko Pasar Lokal Kebobolan Produk Asing

​Di Desa Bumirejo, Kabupaten Malang, proses pembakaran arang kini menggunakan teknologi modern demi memenuhi standar ekspor. Hasilnya tak main-main: target pengiriman ke India dipatok hingga 5 kontainer per minggu.

​Pengusaha UMKM asal Jogonalan, Klaten, juga rutin menembus pasar luar negeri lewat pendampingan Karantina Pertanian Yogyakarta. Pasar Timur Tengah dan Afrika Utara seperti Algeria, Mesir, hingga Arab Saudi sukses disuplai puluhan ton arang kelapa bernilai miliaran rupiah.

​Tak ketinggalan, Batam juga mengambil peran strategis. Kadin Indonesia memfasilitasi pengiriman perdana arang batok kelapa ke China. Nilai potensinya fantastis, diperkirakan mendekati Rp200 miliar per tahun.

​Proyeksi Pasar Global dan Ceruk Energi Hijau

​Data Cognitive Market Research mencatat nilai pasar briket arang kelapa dunia telah menembus US$ 421 juta. Pasar ini diprediksi terus bertumbuh rata-rata 4,3 persen per tahun hingga 2031.

​Asia-Pasifik menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat berkat tingginya kebutuhan filtrasi air dan penyulingan industri. Di sisi lain, Eropa dan Amerika Utara menguasai pangsa pasar terbesar karena tingginya preferensi konsumen terhadap bahan bakar panggangan berbasis green energy.

​Kunci Bertahan di Rantai Pasok Dunia

​Daya saing ekspor Indonesia kini bertumpu pada konsistensi mutu. Parameter seperti kadar air yang rendah, kadar abu minim, serta daya tahan bakar tinggi menjadi penentu utama agar produk lokal tidak ditolak pembeli luar negeri.

0 Komentar