Jangan Buru-buru Ekspor! Menteri UMKM Maman Peringatkan Risiko Pasar Lokal Kebobolan Produk Asing

Menteri-UMKM-Maman-Abdurrahman
Pemandangan panggung acara \'Ngobrol Bareng Pak Menteri\' di mana Menteri UMKM Maman Abdurrahman (tengah) sedang berbicara dengan mikrofon, didampingi dua narasumber lain di kursi panel, di hadapan audiens peserta yang penuh. Foto: Istimewa/Doc Kemen UMKM 

CIREBONINSIDER.COM– Ambisi menembus pasar internasional kerap menjadi impian utama para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Namun, melangkah ke pasar global tanpa fondasi lokal yang kokoh justru menjadi jebakan fatal.

​Peringatan keras ini disampaikan Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat membuka kegiatan Kopdar Ekspor di Jakarta. Ia menekankan pentingnya menguasai pasar domestik sebelum membidik pasar luar negeri.

​”Boleh kita dukung teman-teman untuk ekspor, 100 persen kita dukung. Tetapi pastikan kualitas produk mereka di domestik sudah kuat. Jangan sampai ekspor satu kali, setelah itu tidak berlanjut,” tegas Maman.

Baca Juga:​Buka Akses Modal Bank, BI dan Kementerian UMKM Kucurkan Rp285 MiliarKemenkeu Rilis PKA, Solusi Cerdas UMKM tanpa Riwayat Bank Bisa Tembus Kredit Modal 2026

​Pasar Domestik Adalah Benteng Pertahanan

​Maman mengingatkan bahwa pasar dalam negeri Indonesia yang sangat besar merupakan kekuatan utama. Mengabaikan pasar lokal demi mengejar gengsi ekspor berisiko membuka celah bagi produk asing untuk menguasai pasar dalam negeri.

​”Pasar domestik adalah benteng pertahanan kita. Kita boleh keluar untuk ekspor, tetapi jangan sampai benteng kita sendiri kosong dan dikuasai produk dari luar,” ujar Maman.

​Menurutnya, pasar lokal berfungsi sebagai ruang pengujian utama bagi pelaku usaha. Di pasar domestik inilah UMKM menguji kualitas dan konsistensi produk, membangun kapasitas produksi yang stabil, memperkuat tata kelola usaha, serta memahami karakter konsumen sebelum menghadapi standar global yang rumit.

​Realitas Lapangan: Hanya Sebagian Kecil UMKM Siap Ekspor

​Himbauan Menteri UMKM tersebut sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Data dari Lembaga Layanan Pemasaran UMKM (SMESCO) menunjukkan ketimpangan yang cukup tajam antara jumlah pelaku usaha dan kesiapan mereka melaut ke pasar global.

​Direktur Utama SMESCO, Doddy Akhmadsyah Matondang, membeberkan fakta pemetaan terkini. Dari sekitar 100 ribu data UMKM yang terdaftar di SMESCO, baru 267 UMKM yang teridentifikasi benar-benar siap memasuki pasar ekspor. angka tersebut mewakili tak sampai satu persen dari total basis data.

​Meski demikian, potensi pengembangan terus digali. SMESCO mencatat telah menghubungi 1.083 UMKM secara aktif, di mana 551 di antaranya memiliki potensi besar untuk dikembangkan ke tahap selanjutnya.

​Doddy mengungkapkan, tiga hambatan utama yang masih menjegal UMKM naik kelas meliputi kendala pemasaran, keterbatasan akses pembiayaan, hingga kompleksitas perizinan.

0 Komentar