CIREBOINSIDER.COM— Laju penyaluran pembiayaan perbankan syariah di Indonesia bergerak semakin kencang. Di saat penyaluran kredit bank konvensional mengalami perlambatan, Bank Umum Syariah (BUS) justru mencatatkan pertumbuhan agresif menembus dua digit.
Fenomena pergeseran peta kekuatan intermediasi ini terekam jelas dalam Laporan Kinerja Kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Triwulan IV/2025.
Kecepatan Tumbuh Bertolak Belakang
Angka-angka OJK menunjukkan kontras yang menonjol pada daya ledak pertumbuhan tahunan (year on year).
Baca Juga:Lompatan Zakat Digital, Bank BSN dan BAZNAS Integrasikan Bale SyariahTrikarsa Fest 2026, Strategi Wali Kota Edo Pacu UMKM Cirebon Kuasai Pasar Digital Syariah
Kredit Bank Umum Konvensional (BUK) melambat ke angka 8,76 persen pada Desember 2025—mengendur dari capaian periode sebelumnya sebesar 10,36 persen.
Berbanding terbalik, pembiayaan yang disalurkan Bank Umum Syariah (BUS) justru melesat tajam hingga 25,28 persen. Capaian ini melompat dari posisi sebelumnya yang berada di level 12,18 persen.
Laju kencang ini juga tecermin pada total aset. Aset BUS tumbuh meroket 19,95 persen, melampaui pertumbuhan aset BUK yang tertahan di angka 8,93 persen.
Skala Bisnis Masih Didominasi Konvensional
Meskipun syariah menang cepat dalam hal laju pertumbuhan, jurang skala bisnis antar kedua kelompok perbankan ini diakui masih membentang lebar.
OJK mencatat dari total 105 BUK dan 14 BUS di Tanah Air, total aset perbankan nasional mencapai Rp13.646,417 triliun pada Desember 2025. Mayoritas aset tersebut masih dikuasai BUK senilai Rp12.849,191 triliun, sedangkan BUS mengantongi aset Rp797,226 triliun.
Kondisi serupa terjadi pada penghimpunan dana dan penyaluran kredit:
– Dana Pihak Ketiga (DPK) BUK menembus Rp9.419,949 triliun, sementara DPK BUS sebesar Rp639,238 triliun.
– Penyaluran kredit BUK berada di angka Rp8.068,11 triliun, sedangkan pembiayaan BUS mencapai Rp517,716 triliun.
Baca Juga:Gebrakan Menag Nasaruddin Umar: Bentuk LPDU, Ingatkan Pakar Ekonomi Syariah Tak 'Kebablasan' LiberalKeuangan Syariah Lebih Resilient terhadap Gejolak Ekonomi Ketimbang Konvensional, BI Ungkap Fakta Ini
Bukan Sekadar Bunga vs Bagi Hasil
Akselerasi cepat perbankan syariah tak lepas dari model bisnisnya yang kian relevan bagi masyarakat modern.
Berbeda dengan bank konvensional yang mengandalkan sistem suku bunga pasar dengan pola hubungan kreditur-debitur, perbankan syariah mengusung filosofi falah (kesejahteraan dunia-akhirat). Uang diposisikan murni sebagai alat tukar dan medium transaksi riil, bukan komoditas.
Keunggulan operasional syariah ditopang oleh tiga pilar utama:
Pertama, bebas unsur spekulasi. Sistem syariah secara tegas melarang tiga hal: maisir (keuntungan tanpa kerja keras/judi), gharar (ketidakjelasan barang/transaksi), dan riba dalam seluruh bentuknya—mulai dari bunga pinjaman (qardh), penundaan (nasi’ah), penukaran tak seimbang (fadl), hingga penyerahan tertunda (yad).
