CIREBONINSIDER.COM — Batas antara pasar konvensional dan ruang digital kini makin pudar. Pelaku UMKM di Kota Cirebon dituntut tidak sekadar bertahan dengan cara lama, tetapi harus berani melompati batas ekosistem bisnis modern.
Pesan krusial tersebut mengemuka dalam pembukaan Trikarsa Fest 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon di Grage Mall.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menegaskan bahwa perubahan pola transaksi masyarakat terjadi sangat cepat. Sebagai jantung perdagangan dan jasa di kawasan Ciayumajakuning, Cirebon menanggung risiko besar jika lambat beradaptasi.
Baca Juga:Tutup Celah Mafia Tanah, Effendi Edo Kunci Sistem Digital KPK di CirebonBank Mandiri Salurkan KUR Rp25,63 T hingga Juli 2026, Strategi Cetak 56 Ribu UMKM Naik Kelas
”Kita tidak cukup hanya bertahan dengan pola lama. Harus ada ruang bagi inovasi dan cara-cara baru yang membuat ekonomi lebih cepat, efisien, dan berdampak langsung ke masyarakat,” ujar Effendi Edo.
Tiga Pilar Penopang Ekonomi Cirebon
Gelaran Trikarsa Fest 2026 dirancang untuk menjawab tantangan riil di lapangan melalui tiga pilar utama.
Pilar pertama difokuskan pada perluasan Keuangan Inklusif Digital. Pemanfaatan sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus diperluas. Lewat ajang pendukung seperti Cirebon QRIS Run, masyarakat diajak membiasakan diri bertransaksi secara praktis, terorganisir, dan aman dalam aktivitas harian.
Pilar kedua menyasar penguatan Ekonomi Syariah. Karakter kultural masyarakat Cirebon yang kuat menjadi modal mendasar. Penerapan prinsip keadilan dan ketahanan dalam sistem keuangan syariah dinilai sangat relevan untuk menjaga daya beli warga di tengah ketidakpastian global.
Pilar ketiga menekankan pada akselerasi UMKM lokal. Digitalisasi bukan sebatas menggunakan aplikasi di ponsel pintar, melainkan strategi memotong efisiensi rantai pasok. Sistem pembayaran modern menjamin transparansi pencatatan keuangan sekaligus membuka akses pasar baru tanpa sekat geografis.
Bukan Sekadar Perencanaan di Atas Kertas
Effendi Edo menyoroti pentingnya eksekusi nyata di lapangan. Kebijakan ekonomi digital dan ekonomi syariah tidak boleh berhenti sebagai dokumen perencanaan semata, melainkan harus menyentuh kantong ekonomi warga. Sinergi antara Pemkot Cirebon, Bank Indonesia, regulator, dan pelaku industri wajib melahirkan dampak yang terasa langsung.
”Program yang baik harus hadir di tengah kehidupan masyarakat. Kita bangun ekosistem yang memudahkan pengusaha, memanjakan konsumen, sekaligus menjaga daya tahan ekonomi daerah,” tegasnya.
