CIREBONINSIDER.COM — Capaian penanganan stunting di Kota Cirebon berada di persimpangan jalan krusial. Di satu sisi, cakupan gizi dasar berhasil melompat melampaui target. Namun di sisi lain, grafik kasus di lapangan justru merayap naik.
Data Dinas Kesehatan Kota Cirebon hingga semester I 2026 mencatat prevalensi stunting menyentuh 14,13 persen. Angka ini naik tipis dari posisi akhir 2025 yang berada di angka 14,07 persen.
Mengapa pergeseran ini bisa terjadi? Kenaikan tipis ini memotret realitas bahwa penanganan gizi anak tidak bisa diselesaikan secara parsial. Meski tren jangka panjang Kota Udang sebenarnya membaik drastis dari 19,9 persen pada 2023, tantangan riil masih menumpuk di tingkat tapak.
Baca Juga:Jabar Raih Penghargaan Stunting 2026, Dedi Mulyadi: Kelas Menengah Jangan Belanja di Ritel Modern Terus!Dapat Dukungan World Bank, Begini Cara Pemkab Indramayu ‘Kepung’ Stunting di Wilayah Prioritas
Dari total 16.385 balita yang terdata di seluruh kelurahan, sebanyak 2.191 anak di antaranya masih terjerat status stunting. Ketimpangan antarwilayah pun terlihat makin tajam.
Kecamatan Pekalipan kini menduduki posisi teratas dengan prevalensi stunting tertinggi mencapai 16,37 persen. Berseberangan dengan itu, Kecamatan Kejaksan sukses menjadi wilayah paling progresif dengan angka prevalensi terendah, yakni 11,81 persen.
Siti Farida: Stunting Bukan cuma Soal Tinggi Badan
Dinamika data ini menjadi sorotan utama dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TP3S) yang digelar di Bapperida Kota Cirebon, Kamis (13/8/2026).
Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, menegaskan bahwa stunting tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai persoalan fisik semata atau sekadar rutinitas penyerapan anggaran tahunan.
”Stunting bukan sekadar urusan tinggi badan anak yang tidak sesuai usia. Lebih dari itu, ini adalah ancaman nyata terhadap kualitas, kecerdasan, dan produktivitas generasi Kota Cirebon di masa depan,” tegas Siti Farida di hadapan jajaran TP3S.
Ia menambahkan, Pemkot Cirebon berkomitmen tegak lurus mengawal instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan generasi emas. Targetnya jelas: menekan prevalensi hingga 13,05 persen di akhir 2026, sekaligus mengamankan jalur menuju Zero Stunting pada 2030.
Hingga triwulan III 2026, realisasi program intervensi lintas sektor di lapangan diperkirakan telah menembus angka 70 persen.
Baca Juga:Cirebon Lawan Stunting: Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Pertaruhan 'IQ' dan Masa Depan SDMBukan Sekadar Makan Gratis: Siasat "Protein Pesisir" Siti Farida Tekan Stunting di Cirebon
Dilema Intervensi: Capaian Gizi Melonjak, Imunisasi Justru Tertinggal
Bagaimana sebenarnya performa intervensi kesehatan di Kota Cirebon saat ini? Evaluasi terhadap 12 indikator utama menunjukkan hasil yang cukup kontras.
