CIREBONINSIDER.COM — Siapa sangka, alat pembersih pekarangan rumah yang terkesan sepele kini berubah menjadi emas hitam pendorong devisa. Sapu lidi—khususnya dari limbah kelapa sawit dan pohon nipah—kian diminati pasar global hingga menyumbang ratusan miliar rupiah bagi neraca perdagangan nasional.
Namun di balik gurihnya potensi ekspor sektor riil ini, mesin keuangan domestik justru mulai menunjukkan sinyal kelelahan likuiditas. Ketimpangan antara derasnya permintaan kredit ekspansi dan lambatnya penghimpunan dana masyarakat kini membayangi laju pertumbuhan ekonomi.
Cuan Limbah Sawit Menggurita di Pasar Global
Badan Pusat Statistik (BPS) dan International Trade Centre (ITC) mencatat posisi Indonesia kokoh sebagai eksportir sapu lidi terbesar ketiga di dunia dengan nilai mencapai US$23 juta atau setara Rp450 miliar.
Baca Juga:Jangan Buru-buru Ekspor! Menteri UMKM Maman Peringatkan Risiko Pasar Lokal Kebobolan Produk AsingBukan cuma Busa, Sabun Indonesia Invasi Pasar Global, Cetak Ekspor Rp1,4 Triliun
Porsi pasar Indonesia menguasai 12,42 persen di tingkat global, berada di bawah Tiongkok yang memimpin dengan 20,90 persen. Posisinya unggul tipis di atas Sri Lanka (11,95 persen), Belanda (5,31 persen), dan Meksiko (5,29 persen).
Dua komoditas utama yang menjadi bintang lapangan adalah lidi nipah dan lidi sawit. Volume ekspor kedua bahan limbah ini melonjak pesat hingga 70,08 ribu ton, tumbuh 15,97 persen secara tahunan (yoy). Lonjakan volume tersebut mengerek nilai ekspor menjadi US29,32 juta, naik 11,44 persen (*yoy*) dibanding periode sebelumnya sebesar US26,31 juta.
Pasar utama penampung lidi asal Indonesia dipimpin oleh India dan Pakistan, disusul oleh Jepang, Filipina, hingga Vietnam. Tren positif ini konsisten menjaga surplus neraca perdagangan lidi nasional selama lima tahun berturut-turut, di mana angka surplus terakhir menggemuk ke level US$29,14 juta.
Dilema Likuiditas: Kredit Melesat, Tabungan Melambat
Aktivitas perdagangan internasional yang kian bergairah menuntut sokongan modal kerja yang besar dari perbankan. Sayangnya, kondisi likuiditas perbankan industri dalam negeri mulai mengetat.
Direktur Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Alexander Lubis, mengonfirmasi fenomena tersebut. Pada Juli 2026, penyaluran kredit perbankan melaju kencang di angka 13,6 persen (yoy). Di sisi lain, kemampuan bank menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) justru berjalan lambat, hanya tumbuh 7,7 persen (yoy).
Ketimpangan laju ini memicu penurunan likuiditas di kelompok perbankan tertentu, termasuk Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang menjadi ujung tombak penyaluran pembiayaan UMKM dan ekspor.
