​Limbah Sawit RI Tembus Rp450 Miliar di Pasar Dunia, Mengapa Likuiditas Perbankan Malah Ketat?

Ilustrasi-lidi-sawit-dan-lidi-nipah--kualitas-ekspor
Pekerja sedang memilah lidi sawit dan lidi nipah kualitas ekspor untuk pengiriman pasar internasional. Foto: Ilustrasi/ AI 

​Sinyal Waspada Bagi Eksportir Daerah

​Walau Bank Indonesia memastikan ketahanan perbankan secara umum masih kokoh—ditopang permodalan tinggi dan risiko kredit yang terjaga—penurunan likuiditas tidak bisa diabaikan. Tren penurunan kepemilikan Surat-Surat Berharga (SSB) oleh bank menjadi salah satu indikator ketatnya ruang gerak dana segar.

​Jika persaingan memperebutkan DPK terus berlanjut, biaya dana (cost of fund) berisiko merangkak naik. Kondisi ini berpotensi memicu penyesuaian suku bunga kredit modal kerja, yang pada akhirnya dapat menahan laju ekspansi para eksportir komoditas turunan sawit di daerah.

​Tantangan terbesar perekonomian saat ini bukan lagi sekadar mencari peluang pasar, melainkan memastikan ketersediaan pasokan likuiditas dalam negeri agar momentum pertumbuhan ekspor tidak mendadak terhenti di tengah jalan.(*)

0 Komentar