Gelisah Eksistensi Angklung Bungko Cirebon Kini Meredup, Simak Gagasan Pelestarian Generasi Muda Pesisir Ini

Syahrul-Mubarok-dan-Angklung-Bungko
Syahrul Mubarok (peci, tengah) salah satu tokoh pemuda generasi Z asal Desa Bungko Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon yang gelisah dengan eksistensi kesenian Angklung Bungko yang kini meredup. Foto: Istimewa

CIREBONINSIDER.COM — Di era digital saat ini, sebuah ironi besar tengah melanda pesisir Cirebon Utara. Kesenian Angklung Bungko yang sarat akan nilai filosofis dan spiritual tinggi, popularitasnya kini perlahan meredup di tanah kelahirannya sendiri.

Warisan adiluhung yang dulunya eksis di teras Kesultanan Cirebon tersebut kini menghadapi musuh yang lebih kejam daripada perompak masa lalu: amnesia budaya dari generasi mudanya.​ Fenomena “mati suri” ini memicu pergolakan batin yang mendalam bagi Syahrul Mubarok (24), seorang pemuda asli warga Desa Bungko Lor.

Bagi Syahrul, lahir dan tumbuh di tanah yang dulunya dihuni oleh sosok kharismatik sekelas Ki Gede Bungko adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Namun, kebanggaan itu kini bercampur dengan rasa prihatin yang mendalam.

Baca Juga:Kisah Veteran Majapahit: Ki Gede Bungko, Panglima Laut Cirebon & Misteri Angklung Purba 600 TahunMenbud ke Keraton Kasepuhan dan Rencana Transformasi Gedung Kesenian Nyi Mas Rarasantang Jadi Taman Budaya

​”Bagaimana pun, tempat kelahiran saya dulunya dihuni sosok yang berani dan berdedikasi. Murid wali yang tidak hanya cakap beragama, tetapi juga berlian dalam taktik perang. Beliau bukan orang sembarangan,” ungkap Syahrul takzim. “Namun jujur, saya merasa prihatin karena sebagai generasi penerus, kami belum bisa berbuat banyak untuk menjaga kelestarian budaya seni yang beliau wariskan.”

​Sindrom ‘Kurang Modern’ dan Pudarnya Identitas Pesisir

​Menurut analisis Syahrul, akar masalah dari redupnya pamor Angklung Bungko terletak pada cara pandang generasi muda hari ini terhadap perkembangan zaman. Globalisasi dan arus informasi digital sering kali disalahartikan, sehingga mengikis kecintaan terhadap identitas lokal.

​Kesenian tradisional kini kerap mendapatkan stempel miring sebagai produk masa lalu yang usang dan kaku. Akibatnya, ada semacam jarak psikologis yang membuat anak-anak muda enggan untuk menyentuh, apalagi mempelajari warisan leluhur mereka sendiri.

​”Di era sekarang, banyak orang yang meninggalkan budayanya sendiri karena adanya perkembangan zaman. Generasi kita malas berperan terhadap budayanya karena dinilai kurang modern. Akhirnya, budaya kita semakin jarang dilirik oleh para generasi muda kita sendiri,” kritik Syahrul tajam.

​Dampak dari pengikisan budaya ini tidak main-main. Syahrul mengamati bahwa pudarnya kepedulian terhadap angklung juga berbanding lurus dengan merosotnya nilai-nilai sosial di masyarakat.

0 Komentar