CIREBONINSIDER.COM -​ Kedaulatan matra laut Kesultanan Cirebon pada masa keemasannya mutlak berada di bawah komando satu nama besar: Ki Gede Bungko. Siapa sangka, laksamana tertinggi yang dalam naskah kuno Carub Kanda disebut bernama asli Jakataruna ini, merupakan seorang veteran tangguh dari angkatan laut Kerajaan Majapahit.
Jauh setelah imperium besar itu runtuh, jejak militernya justru abadi di pesisir Cirebon, menyisakan kisah heroik dan misteri sepasang angklung purba berusia 600 tahun yang dirawat erat oleh penjelajah bahari lokal dari Komunitas Sarwa Jala.
​Jakataruna bukanlah orang baru dalam taktik pertempuran laut Nusantara. Ia merupakan perwira laut asal Blambangan (Banyuwangi). Setelah Majapahit runtuh, ia mengembara dan menimba ilmu spiritual sebagai murid Sunan Ampel, sebelum akhirnya diboyong oleh Sunan Gunung Jati ke tanah Cirebon karena keahlian navigasi dan taktik baharinya yang jenius.
Baca Juga:Sisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi MulyadiMenelusuri Segitiga Emas Kapetakan: Siasat Rahasia Kesultanan Cirebon Kunci Jalur Laut Jawa
​Pembersihan Perompak Mundu Tanpa Sisa
​Reputasi tempur Jakataruna tercatat emas saat memimpin armada perahu jaladi (kapal perang tradisional) bahu-membahu mematahkan ambisi hegemonik Portugis di Sunda Kelapa pada tahun 1522 Masehi.
Namun, ujian paling berdarah bagi kepemimpinannya justru datang dari dalam negeri, ketika Laut Jawa dikepung oleh teror bajak laut yang luar biasa ganas.
​Titik nadir itu terjadi saat Pangeran Bratakelana, putra kandung Sunan Gunung Jati, dicegat di tengah laut ketika hendak memasuki perairan Mundu. Sang pangeran bersama puluhan pengawalnya dibantai tanpa ampun, seluruh harta benda di dalam kapal dijarah, dan jasad mereka dilarung begitu saja ke samudra.
​Tragedi keji ini menyulut amarah besar Kanjeng Sunan Gunung Jati. Perintah operasi militer penuh dengan instruksi tegas langsung turun ke pundak Ki Gede Bungko: tumpas para perompak sampai ke akar-akarnya!
​Bergerak cepat dengan taktik sapu bersih, Ki Gede Bungko memimpin ekspedisi militer besar-besaran menyisir seluruh sudut pantai utara. Melalui pertempuran laut yang sengit, ia memburu dan menghabisi jejaring bajak laut tersebut tanpa sisa.
Keberhasilan gemilang ini seketika menyegel reputasi perairan Cirebon sebagai jalur perdagangan paling aman di Nusantara. Atas kesetiaan dan jasanya yang luar biasa, Jakataruna dihadiahi tanah kekuasaan di pesisir barat yang kini abadi menjadi Desa Bungko.
