Kisah Veteran Majapahit: Ki Gede Bungko, Panglima Laut Cirebon & Misteri Angklung Purba 600 Tahun

Angklung-Bungko
Ilustras pementasan Angklung Bungko dan tarian perang tradisional Cirebon Utara, refleksi sejarah militer maritim Ki Gede Bungko. Foto: Istimewa/Doc Cirebon Insider

​Angklung Bungko: Eksotisme Kidung Blambangan dan Tarian Perang Islam

​Di balik ketegasannya di atas gelombang laut, pria yang oleh sesepuh lokal dijuluki Syekh Benting ini menyimpan sisi romantisme budaya yang memikat.

Sebagai putra kelahiran Blambangan, ia membawa memori tanah kelahirannya melalui instrumen bambu yang kelak bertransformasi menjadi Angklung Bungko.

​Hingga detik ini, Desa Bungko masih merawat tiga buah angklung purba berbahan bambu yang diperkirakan telah berusia 600 tahun. Berbeda jauh dengan angklung priangan yang melodius, Angklung Bungko adalah musik ritmis magis berbasis kentongan (kohkol) yang difungsikan sebagai pengiring tarian perang pasca-era Sunan Gunung Jati.

Baca Juga:Sisa Kas Jabar Rp500 Ribu, Sekda Herman Suryatman Bongkar Strategi Belanja Agresif Era Dedi MulyadiMenelusuri Segitiga Emas Kapetakan: Siasat Rahasia Kesultanan Cirebon Kunci Jalur Laut Jawa

​Seni tarian yang dibawakan oleh para pria berkeris ini menyimpan kontradiksi estetis yang luar biasa. Iringan waditranya bergemuruh dahsyat layaknya genderang perang, namun gerakan tubuh para penarinya justru dibawakan dengan sangat halus, statis, dan tenang—kontras dengan raut wajah yang memancarkan ketegangan batin.

​Empat Pilar Filosofi di Balik Gerak Jiwa

​Melalui mediasi taktik dakwah Syekh Benting, tarian perang ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan tuntunan yang menyusupkan empat filosofi hidup Islam yang mendalam bagi masyarakat pesisir:

​Keteguhan iman mengakar kuat pada gerak Panji, sebuah visualisasi magis tentang bagaimana seorang manusia harus tetap tegak berdiri dalam zikir dan ingatan kepada Sang Pencipta.

Berdampingan dengan itu, hadir karakter Benteleye yang menyimbolkan ketegasan bertindak serta mental baja yang tak goyah saat didera badai ujian hidup.

​Kehidupan pesisir yang keras kemudian dijawab oleh filosofi Bebek Ngoyor, sebuah manifestasi epik tentang jerih payah, kerja keras, dan konsistensi tanpa batas demi menggapai tujuan mulia.

Sebagai pamungkas, gerakan Ayam Alas melesat bagai anak panah—menjadi perlambang kelincahan, kecerdasan strategis, serta akurasi tinggi dalam membidik setiap peluang.

​Hingga akhir hayatnya, sang Laksamana memilih menyatu dengan tanah pesisir yang ia babat, meninggalkan warisan peradaban maritim yang egaliter dan mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Cirebon Utara.(*)

0 Komentar