CIREBONINSIDER.COM— Ukurannya mungil, krispi, dan menyimpan gurih udang rebon yang kuat. Sumpia udang buatan pabrik rumahan di Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, kini bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi lokal yang mempekerjakan puluhan warga sekitar.
Tak main-main, dapur produksi milik Maksum kini mampu mencetak 1 ton sumpia udang rebon per hari. Usaha yang digeluti sejak tahun 2000 ini membuktikan tangguhnya UMKM daerah. Berawal dari olahan manual, kini ia memanfaatkan peralatan semi-modern untuk mengejar lonjakan permintaan pasar.
Dapur Ekonomi Warga Talun
Kapasitas produksi yang fantastis itu mustahil berjalan sendirian. Maksum merangkul warga lokal dalam setiap rantai proses, mulai dari peracikan adonan, penggulungan kulit yang presisi, penggorengan, hingga pengemasan akhir.
Baca Juga:Jangan Buru-buru Ekspor! Menteri UMKM Maman Peringatkan Risiko Pasar Lokal Kebobolan Produk AsingBukan cuma Busa, Sabun Indonesia Invasi Pasar Global, Cetak Ekspor Rp1,4 Triliun
Setiap gigitan renyahnya memanfaatkan bahan baku lokal pilihan. Racikan tepung terigu, tepung panir, dan rempah-rempah berpadu sempurna dengan gurihnya udang rebon segar.
Produk unggulan ini dijual seharga Rp115.000 per kemasan lima kilogram. Distribusinya tidak lagi sebatas wilayah Cirebon. Kudapan renyah ini sudah merambah pasar Jawa Timur—seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, Kediri, hingga Blitar—bahkan menembus pasar Palembang.
Terkendala Pasokan Bahan Baku dan Logistik
Meski pasarnya kian meluas, perjalanan bisnis Maksum bukan tanpa kerikil. Fluktuasi harga serta ketersediaan stok bahan baku utama seperti udang rebon dan tepung terigu masih sering menjadi kendala utama.
Di sisi lain, efisiensi rantai pasok logistik antarpulau menjadi tantangan krusial demi menjaga konsistensi pengiriman agar produk sampai ke tangan distributor tepat waktu.
Mimpi Tembus Pasar Global
Melihat ceruk pasar yang terus membesar, Maksum menatap peluang yang lebih tinggi. Ia berharap ada perhatian konkret dari pemerintah daerah terkait pendampingan legalitas, sertifikasi standar ekspor, hingga akses pameran internasional.
”Kami berharap ada fasilitasi ekspor agar UMKM lokal bisa bersaing di pasar luar negeri. Ini peluang besar untuk menambah lapangan kerja baru di Cirebon,” ujar Maksum.
Sinergi Car Free Day dan Desa Wisata
Geliat manufaktur skala mikro ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kecamatan Talun. Camat Talun, Agustino Alamsyah, menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem promosi produk lokal.
