CIREBONINSIDER.COM — Gaya hidup sehat dan demam veganism di kawasan Eropa hingga Australia mendadak jadi tambang emas baru bagi petani lokal Indonesia. Gula aren—pemanis tradisional yang dulu hanya berputar di dapur rumah tangga—kini resmi bertransformasi menjadi komoditas ekspor kelas atas yang diperebutkan pasar dunia.
Bukan tanpa alasan pasar global memburu gula aren nusantara. Konsumen internasional mulai meninggalkan gula pasir olahan dan beralih ke pemanis alami berindeks glikemik rendah.
Kementerian Perdagangan mencatat, pasar gula aren global yang bernilai US$ 257,89 juta pada 2023 diproyeksikan melonjak tajam hingga menembus US$ 439,32 juta pada 2032, dengan laju pertumbuhan tahunan mencapai 7,23 persen.
Baca Juga:Eksportir Superfood, Cara Kelor Indonesia Menginvasi Pasar DuniaStrategi Holding Klaster KemenUMKM, Cara Cepat Brand Lokal Cetak Lisensi Waralaba dan Kuasai Pasar 2026
Dua daerah di Indonesia kini tampil sebagai pemain utama yang sukses memanfaatkan peluang emas tersebut:
Pacitan, Jawa Timur
Pacitan mencatatkan rekor dengan melepas 11 ton gula aren ke tiga benua sekaligus. Malaysia menyerap porsi terbesar sebanyak 10 ton senilai Rp400 juta. Pasar Eropa ikut mencicipi manisnya aren Pacitan lewat Belanda yang mengimpor 1 ton senilai Rp67,5 juta, disusul Australia yang mengamankan 500 kilogram dengan nilai Rp67,5 juta.
Desa Girimukti, Lebak, Banten
Di sudut pelosok Banten, Desa Girimukti menjelma menjadi sentra produksi modal raksasa. Para pelaku UMKM lokal di desa ini mampu memproduksi 4 hingga 6 ton gula aren per hari, baik dalam bentuk bubuk maupun cair.
Hasilnya tak main-main. Produk aren Girimukti rutin terbang mengisi pasar Korea Selatan, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat.
Tak hanya merambah pasar internasional, gula aren dari Banten ini juga menjadi buruan industri food and beverage papan atas di dalam negeri, dengan total omzet fantastis mencapai Rp5 miliar hingga Rp6 miliar setiap bulannya.(*)
