CIREBONINSIDER.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah bukan sekadar proyek pembagian makanan masal, melainkan investasi pembentukan karakter dan kesehatan jangka panjang anak. Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi mendorong peran guru di sekolah sebagai benteng terakhir pengawasan keamanan pangan (organoleptik) sekaligus penggerak utama literasi gizi siswa.
Langkah ini mempertegas bahwa makanan yang sampai di meja belajar harus lolos verifikasi akhir secara fisik, sekaligus dimanfaatkan sebagai media pembelajaran hidup sehat yang nyata di luar jam kelas formal.
Garda Terdepan Uji Organoleptik Makanan
Sebelum siswa menyantap hidangan, BGN menerapkan sistem pengawasan berlapis yang melibatkan pengawas gizi, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga Person in Charge (PIC) sekolah. Namun, guru memegang posisi paling krusial di garis akhir.
Baca Juga:Sapu Bersih Dapur MBG Bodong, BGN Gembok 1.999 Dapur Pembangkang Izin SanitasiMas Dar Buka Suara: 90% Keracunan MBG Akibat SOP, Data Siswa Bakal Ditarik via NIK
– Pemeriksaan Fisik Langsung: Guru menjalankan uji organoleptik sederhana dengan mengecek aroma, warna, tekstur, dan rasa makanan secara visual serta inderawi sebelum dibagikan.
– Pencegahan Risiko Dini: Deteksi awal ini menutup celah potensi kerusakan atau pembusukan makanan selama proses distribusi dari dapur pusat menuju ruang kelas.
– Jaminan Keamanan Pangan: Kehadiran guru sebagai penyaring akhir memastikan tingkat kehati-hatian maksimal demi keselamatan dan kesehatan anak.
Membangun 8 Kebiasaan Baik dan Budaya Sehat
BGN menilai masalah gizi buruk maupun pola makan tidak seimbang tidak selesai hanya dengan memberikan piring berisi makanan. Diperlukan intervensi perilaku yang dipandu oleh figur teladan sehari-hari.
Lewat pendampingan guru, pelaksanaan MBG dirancang untuk membiasakan 8 Kebiasaan Baik yang dilakukan secara konsisten:
– Etika dan Spiritual: Mengucapkan salam, menyampaikan rasa syukur, serta berdoa bersama sebelum dan sesudah makan.
– Sanitasi Ketat: Kebiasaan wajib mencuci tangan memakai sabun serta air mengalir sebelum menyentuh makanan.
Baca Juga:Anggaran MBG Dipangkas Rp30 T, BGN Kunci Target 72,4 Juta Penerima ManfaatMas Dar Perketat Dapur MBG, Sistem Dikunci Apel Virtual, Relawan Dilarang Lalai
– Kedisiplinan Sosial: Budaya antre secara tertib saat mengambil porsi dan menikmati makanan bersama teman sekelas.
– Literasi Nutrisi: Guru menjelaskan langsung fungsi komponen piring—seperti protein, karbohidrat, vitamin, dan serat—terhadap tumbuh kembang anak.
– Tanggung Jawab Lingkungan: Menjaga kebersihan meja, merapikan wadah, serta memilah sampah makanan setelah selesai.
