CIREBONINSIDER.COM — Masalah utama UMKM di Cirebon ternyata bukan lagi urusan modal usaha. Banyak pelaku usaha lokal mampu menciptakan produk berkualitas tinggi, namun bertumbangan karena gagal membangun sistem bisnis yang kokoh.
Fakta krusial ini mengemuka saat pembukaan Regional Offline AKSARA (Akselerasi Wirausaha) Jawa Barat 2026 di Ruang Prabayaksa Gedung Setda Kota Cirebon, Selasa (8/9/2026).
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, menegaskan bahwa kelemahan mendasar UMKM daerah terletak pada tata kelola internal dan manajemen bisnis modern.
Baca Juga:Rotan Trangsan Sukoharjo Mendunia, Wamendag Roro Dorong UMKM Gebrak TEI 2026Jangan Buru-buru Ekspor! Menteri UMKM Maman Peringatkan Risiko Pasar Lokal Kebobolan Produk Asing
Tiga Penyakit Klasik UMKM Lokal
Banyak wirausaha lokal terjebak dalam rutinitas transaksi harian tanpa arah pertumbuhan yang jelas.
Masalah pertama adalah pencatatan keuangan yang masih campur aduk. Uang pribadi dan modal usaha kerap menyatu tanpa pemisahan yang tegas.
Masalah kedua, pelaku usaha sering tergagap di hadapan investor. Mereka belum menguasai teknik presentasi bisnis (pitching) serta belum mampu menyusun proyeksi pertumbuhan yang terukur.
Masalah ketiga terletak pada model bisnis yang rapuh. Produk yang dihasilkan memang bagus, tetapi tidak ditopang legalitas usaha serta pemahaman dinamika pasar yang memadai.
”Momentum hari ini adalah ruang transisi. Kita ingin pelaku usaha bergeser dari sekadar menjalankan rutinitas transaksi harian menuju entitas ekonomi yang kuat, adaptif, dan terukur,” ujar Wali Kota Cirebon, Effendi Edo.
Tiga Langkah Nyata Akselerasi Pasar
Program AKSARA hadir sebagai jembatan konkrit. Sebanyak 50 pelaku usaha terpilih dari sektor kuliner, ekonomi kreatif, platform digital, fashion, hingga pertanian digembleng langsung oleh para mentor profesional.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat, Dedi Taufik, menekankan bahwa pendampingan tidak boleh berhenti pada teori di dalam ruangan.
Baca Juga:Buka Akses Modal Bank, BI dan Kementerian UMKM Kucurkan Rp285 MiliarKemenkeu Rilis PKA, Solusi Cerdas UMKM tanpa Riwayat Bank Bisa Tembus Kredit Modal 2026
Langkah konkret pertama difokuskan pada penyelarasan pasar (market sync). Produk lokal Cirebon dan wilayah Ciayumajakuning dipertemukan langsung dengan jejaring pasar di luar Jawa Barat.
Langkah kedua adalah optimalisasi belanja pemerintah. Pengadaan merchandise dan kebutuhan kegiatan dinas mulai diarahkan untuk menyerap produk UMKM lokal secara konsisten.
Langkah ketiga menyasar penciptaan lapangan kerja baru. Program ini mendorong status UMKM bergeser dari sekadar penyambung hidup menjadi pembuka lapangan kerja skala regional.
