CIREBONINSIDER.COM— Kabupaten Cirebon memacu penerapan Program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS). Hingga awal September 2026, Dinas Pertanian (Distan) mencatat program ini baru merealisasikan 113 hektare sawah. Capaian ini masih bertahap menuju target besar seluas 8.000 hektare yang dijadwalkan berlanjut hingga Oktober 2026.
Pemerintah membidik lonjakan hasil panen yang signifikan. Melalui PMAAS, produktivitas padi ditargetkan melompat hingga 10 ton per hektare. Angka ini hampir melipatgandakan rata-rata produksi harian petani Cirebon yang selama ini bertahan di kisaran 5 sampai 6 ton per hektare.
Perubahan Perhitungan Input dan Metode Tanam
PMAAS merombak total pola tanam tradisional dengan menerapkan metode tanam benih langsung (tabela). Petani tidak lagi melewati proses persemaian maupun pemindahan bibit, sehingga siklus tanam berjalan lebih ringkas.
Baca Juga:Panen Perdana Indramayu Meledak 10,45 Ton Per Hektare, Modernisasi Pertanian Bungkam SkeptisismeBirokrasi Pupuk Resmi Dipotong Kompas, tapi Mengapa Lahan Pertanian Justru Menghadapi Alarm Bahaya?
Perubahan metode ini berimbas langsung pada lonjakan kebutuhan input produksi. Metode tabela membutuhkan sekitar 70 kilogram benih per hektare, atau lebih dari dua kali lipat dibanding pola konvensional yang hanya menghabiskan 25 hingga 30 kilogram.
Kementerian Pertanian menopang penuh alokasi benih 70 kilogram tersebut, disusul penyaluran pupuk intensif sebanyak 7 kuintal Urea dan 4 kuintal Phonska per hektare.
Ujian Ketersediaan Air di Musim Kemarau
Penerapan teknologi modern ini menghadapi tantangan geografis karena berjalan di tengah musim kemarau. Kepastian pasokan air dari jaringan irigasi menjadi penentu utama efektivitas input yang disalurkan.
Kepala Distan Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, menegaskan bahwa penentuan lokasi PMAAS tidak dilakukan sembarangan. Perluasan program difokuskan pada lahan yang memiliki ketersediaan air dan sistem irigasi terjamin agar potensi budidaya tergarap maksimal.
Komitmen Nasional dan Pendampingan Lapangan
PMAAS diposisikan sebagai bagian dari strategi penguatan cadangan beras nasional. Direktur Wilayah Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat Kementan, Detia Tri Yunandar, menyebutkan bahwa program nasional ini merupakan arahan langsung dari Presiden dan Menteri Pertanian untuk mendongkrak kesejahteraan petani.
Keberhasilan target PMAAS kini bergantung pada ketepatan pendampingan di lapangan. Sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga pemerintah desa menjadi kunci agar transformasi teknologi ini benar-benar menghasilkan produktivitas tinggi secara berkelanjutan.(*)
