Panen Perdana Indramayu Meledak 10,45 Ton Per Hektare, Modernisasi Pertanian Bungkam Skeptisisme

Bupati-Indramayu-Lucky-Hakim
Bupati Indramayu Lucky Hakim menaiki mesin pemanen combine harvester saat panen perdana padi teknologi modern PM-AAS di Desa Plosokerep, Terisi, Indramayu. Foto: Istimewa/ Doc Pemkab Indramayu

CIREBONINSIDER.COM — Terobosan modernisasi pertanian di Kabupaten Indramayu membuahkan hasil memuaskan. Hasil pengukuran resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi produktivitas padi program Pertanian Modern-Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, meledak hingga rata-rata 10,45 ton per hektare.

​Capaian spektakuler pada panen perdana di Blok Suket Baju ini mematahkan pesimisme sekaligus melompati target awal Pemkab sebesar 8 ton per hektare. Angka realisasi ini melonjak hampir dua kali lipat dibanding pola tanam tradisional yang selama ini mandek di kisaran 5 hingga 6 ton per hektare.

​Dominasi Varietas Ciherang dan Validasi Ubinan BPS

​Pengukuran dilakukan ketat oleh BPS Kabupaten Indramayu menggunakan metode ubinan acak di lima titik sampling. Pemantauan ilmiah ini diperkuat teknologi Kerangka Sampel Area (KSA) yang mengawal tanaman sejak fase vegetatif hingga panen.

Baca Juga:Birokrasi Pupuk Resmi Dipotong Kompas, tapi Mengapa Lahan Pertanian Justru Menghadapi Alarm Bahaya?Adopsi Teknologi Arkansas, Indramayu Targetkan Panen 10 Ton Per Hektar Lewat Pertanian Modern PM-AAS

​Hasilnya luar biasa. Varietas Ciherang yang dikelola Kelompok Tani Tani Makmur mencatatkan rekor tertinggi mencapai 12,35 ton per hektare.

​Sementara itu, varietas Inpari 32 milik Kelompok Tani Bina Tani 3 menyusul kuat dengan raihan 11,74 ton dan 9,09 ton per hektare. Di lahan Kelompok Tani Bina Tani 4, varietas yang sama menghasilkan 10,65 ton per hektare, disusul Bina Tani 2 dengan raihan 8,44 ton per hektare.

​Kalkulasi Ekonomis: Modal Naik, Margin Keuntungan Melonjak

​Penerapan teknologi modern memang menuntut modal kerja lebih besar. Biaya operasional usaha tani naik dari Rp15 juta menjadi Rp20 juta per hektare untuk pengadaan benih unggul, optimalisasi mekanisasi, serta pemeliharaan presisi.

​Namun, kenaikan modal tersebut terbayar lunas oleh lonjakan volume panen.

​Dengan asumsi harga Gabah Kering Panen (GKP) Rp6.500 per kilogram, petani mampu mengantongi tambahan pendapatan bersih hingga Rp24 juta per hektare. Bahkan ketika harga gabah merangkak naik ke level Rp8.500 per kilogram, potensi tambahan keuntungan bersih petani melonjak drastis hingga Rp32 juta per hektare.

​Sebuah lonjakan kesejahteraan yang sangat signifikan bagi masyarakat pesisir Indramayu.

​Mekanisasi Penuh dan Ekosistem Alsintan

​Keberhasilan skema PM-AAS tidak lepas dari sokongan mekanisasi penuh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Jawa Barat. Seluruh proses budidaya didukung ekosistem alat dan mesin pertanian (alsintan) mutakhir.

0 Komentar