​Jebakan FOMO Cepat Kaya, Bahaya Tersembunyi di Balik Imbal Hasil Tinggi Investor Muda

Ilustrasi-portofolio-investasi
Ilustrasi investor muda menganalisis grafik risiko portofolio investasi dan likuiditas keuangan di smartphone. Foto: Ilustrasi/ AI 

CIREBONINSIDER.COM– Jebakan FOMO (Fear of Missing Out) dan hasrat cepat kaya kini menjadi ancaman nyata bagi investor muda. Ambisi mengejar imbal hasil (return) setinggi langit kerap melumpuhkan rasio. Banyak yang tergiur keuntungan besar tanpa pernah paham risiko pahit di baliknya.

​Fenomena mengejar kekayaan kilat ini disoroti langsung oleh industri perbankan. Fenomena ini bukan sekadar tren biasa, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan finansial generasi muda yang baru belajar berinvestasi.

​”Dia pengen return-nya paling gede. Ingin cepat kaya. Pokoknya ambil yang return-nya gede tanpa tahu apa sebenarnya risiko di baliknya,” tegas Personal Banking Segment Head OCBC, Lauda Muliana, Kamis (27/8/2026).

Baca Juga:​Investasi Rp3,8 Triliun APBN, Menkeu Purbaya Kunci Anggaran Sekolah Rakyat PrabowoInvestasi Demokrasi: Curi Start sejak 2026, Bawaslu Kota Cirebon Gembleng Gen Z Jadi 'Benteng' Pemilu 2029

​Proses membangun kekayaan sejatinya adalah latihan kedisiplinan panjang. Sayangnya, banyak pemula melompati fondasi dasar ini demi mengejar ilusi cuan instan.

​Bahaya Tersembunyi: Terjebak Likuiditas dan Kerugian Permanen

​Kesalahan berinvestasi tanpa strategi berdampak fatal ketika kondisi mendadak berubah. Investor muda kerap hanya memandang produk dari proyeksi imbal hasil di atas kertas. Saat pasar mendadak bergejolak, kepanikan pun dimulai.

​”Takutnya saat lagi di dalam proses berinvestasi, lalu tiba-tiba butuh likuiditas, ternyata market-nya lagi naik turun. Jadi dia harus realize loss-nya,” ungkap Wealth Management Advisory Head OCBC, Diamond Stole.

​Ketika butuh dana mendesak saat harga aset terpuruk, investor terpaksa mencairkan dana. Keputusan ini mengunci kerugian secara permanen (realize loss). Modal yang dihimpun susah payah sirna begitu saja hanya karena salah hitung likuiditas.

​Pergeseran Nekat: Dari Konservatif ke Agresif

​Pengamatan internal OCBC menunjukkan pola yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Pemula umumnya memulai dengan profil risiko aman—konservatif hingga moderat.

​Namun, seiring luasnya akses aplikasi finansial, makin banyak anak muda langsung melompat ke instrumen berisiko tinggi. Pengetahuan finansial yang sedikit meningkat sering kali melahirkan rasa percaya diri berlebihan (overconfidence).

​Memiliki profil agresif di usia muda memang wajar. Namun, agresivitas tanpa mitigasi risiko yang matang sama saja dengan berjudi dengan masa depan keuangan.

​Dua Jalan Berbeda: Spekulasi vs Strategi Matang

0 Komentar