Kado Pahit Usia 81 Jabar: Bodebek-Bandung Raya Makin Kaya, Jabar Selatan dan Cirebon Raya Tertinggal

Anggota-DPRD-Jabar-Prasetyawati
​Anggota DPRD Jabar Prasetyawati menyuarakan evaluasi ketimpangan pembangunan dan alih fungsi lahan pada momentum usia 81 Jawa Barat.

CIREBONINSIDER.COM — Peringatan usia ke-81 Provinsi Jawa Barat menyimpan catatan kritis. Di balik megahnya angka pertumbuhan ekonomi nasional, ketimpangan pembangunan antardaerhana justru makin mencolok. Kawasan Bodebek dan Bandung Raya melesat tajam, sementara Jawa Barat Selatan, Cirebon Raya, hingga Priangan Timur masih tertinggal jauh.

​Sorotan tajam ini dikemukakan Anggota DPRD Jawa Barat, Prasetyawati. Menurutnya, momen penambahan usia provinsi ini tak boleh habis hanya untuk pesta seremoni. Pemprov Jabar dipetakan harus segera menyelesaikan tiga pekerjaan rumah raksasa: ketimpangan wilayah, pengangguran terdidik, dan laju alih fungsi lahan yang tak terkendali.

​1. Jurang Pembangunan: Yang Kaya Makin Maju, Pinggiran Terabaikan

​Pembangunan di Jawa Barat dinilai belum menyentuh seluruh lapisan wilayah secara adil. Pusat ekonomi, fasilitas publik modern, dan investor raksasa seolah menumpuk rapat hanya di wilayah Bogor, Depok, Bekasi (Bodebek) serta kawasan Bandung Raya.

Baca Juga:​Buka Suara di Gedung Merdeka, Wali Kota Cirebon Sebut Pembangunan Bukan Hanya soal Beton!​Sentilan KDM di Gedung Sate: APBD Jangan Habis di Seremonial, Wali Kota Cirebon Pasang Badan

​Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Priangan Timur, Cirebon Raya, dan Jawa Barat Selatan. Di kawasan ini, infrastruktur dasar hingga pusat ekonomi baru masih sangat minim.

​”Wilayah Priangan Timur, Cirebon Raya, hingga Jabar Selatan masih tertinggal jauh dari sisi infrastruktur, penyediaan lapangan kerja, hingga akses layanan dasar,” tegas Prasetyawati di Bandung.

​2. Ironi Pengangguran Terdidik: SMK dan Sarjana Masuk Perangkap

​Jawa Barat boleh bangga memiliki jumlah penduduk melimpah sebagai bonus demografi. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Angka pengangguran terdidik justru mendominasi, terutama dari kalangan lulusan SMK dan Perguruan Tinggi.

​Masalah utamanya berada pada ketidaksesuaian (mismatch) antara kurikulum pendidikan formal dengan kebutuhan nyata dunia industri. Alhasil, ribuan lulusan kejuruan gagap saat berhadapan dengan kriteria pasar kerja modern.

​”Bonus demografi belum sepenuhnya kita manfaatan. Tingkat pengangguran lulusan SMK dan perguruan tinggi masih besar, link and match antara pendidikan dengan dunia industri belum optimal,” papar Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jabar tersebut.

​3. Ancam Ketahanan Pangan: Sawah Disulap Jadi Beton

​Pekerjaan rumah ketiga tak kalah krusial: alih fungsi lahan produktif. Setiap tahun, ratusan hektar lahan pertanian produktif tergerus, berganti menjadi kawasan industri dan perumahan.

0 Komentar