Disnaker Kabupaten Cirebon Saring 1.400 Pendaftar Pelatihan Bahasa dan Budaya Jepang

Bupati-Cirebon-Imron
Suasana pembukaan program pelatihan bahasa Jepang di Pendopo Bupati Cirebon. Bupati Imron (tengah udeng) dan Kepala Disnaker Novi Hendrianto (kedua dari kanan) berinteraksi dengan peserta daring yang terlihat di layar monitor latar belakang. Foto: Istimewa/ Doc Pemkab Cirebon 

​CIREBONINSIDER.COM — Bonus demografi bukan lagi jualan wacana kaku di Kabupaten Cirebon. Pemerintah daerah setempat resmi mengambil langkah agresif: menggembleng ratusan pencari kerja lokal untuk menembus ketatnya standar pasar kerja Negeri Sakura.

​Langkah strategis ini ditandai dengan dibukanya kelas daring Program Pelatihan Bahasa dan Budaya Jepang 2026 bertajuk “From Zero to Hero” Batch II di Pendopo Bupati Cirebon, Rabu (5/8/2026).

​Ini bukan sekadar kursus bahasa gratis biasa. Ini adalah Karantina Mental dan Skill skala daerah.

Baca Juga:Putus Rantai Kemiskinan Eksponensial: Pemkab Cirebon Buka Karpet Merah Menuju Jepang Lewat From Zero to HeroStrategi Graduasi Kemensos, Cetak Lulusan Sekolah Rakyat Jadi Caregiver Profesional di Jepang

​Seleksi Tanpa Kompromi: 1.400 Pendaftar, Hanya Terbaik yang Lolos

​Antusiasme warga Cirebon terbilang meledak. Tercatat ada sekitar 1.400 pendaftar yang memperebutkan kuota program unggulan ini.

​Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cirebon tidak asal comot. Proses penyaringan berlangsung transparan, akuntabel, dan ketat.

​Pertama, verifikasi domisili kependudukan dilakukan untuk memastikan prioritas penuh bagi warga lokal Cirebon. Kedua, pemeriksaan kesehatan umum dijalankan demi menyaring kesiapan fisik standar industri Jepang. Ketiga, penilaian minat serta komitmen diuji langsung agar peserta tidak drop out di tengah jalan.

​”Peluang kerja di Jepang terbuka lebar, tapi pintunya sangat sempit bagi yang malas. Jepang butuh tenaga kerja yang kompeten, disiplin, dan paham budaya kerja setempat,” tegas Bupati Cirebon, Imron.

​Bupati menekankan, melimpahnya anak muda usia produktif di Cirebon justru akan menjadi beban daerah jika tidak segera dibekali standar kompetensi global.

​Kolaborasi ISO Jepang: Karpet Merah Menuju Visa Kerja

​Guna menjamin mutu pelatihan dan kepastian jalur keberangkatan, Disnaker Kabupaten Cirebon menggandeng lembaga terkemuka, ISO Jepang.

​Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menjelaskan bahwa kelas online via platform Zoom ini barulah tahap pemanasan. Peserta yang lolos verifikasi ketat akan langsung diboyong ke Training Center Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) terakreditasi di Depok untuk digembleng secara tatap muka (offline).

Baca Juga:Investasi Rp574 Triliun Korea-Jepang: Momentum Emas atau Sekadar Angka di Atas Kertas bagi Daerah?Identitas Anak Diaspora di Jepang Terancam: KBRI Tokyo Sentil Program Pengabdian Kampus RI

​Langkah bertahap ini krusial untuk memenuhi kualifikasi ketat visa kerja Jepang, baik untuk skema Specified Skilled Worker (SSW/Tokutei Ginou) maupun magang teknis (Jisshusei).

​Misi Utama: ‘Reset’ Mindset dan Cultureset Lokal

​Bukan cuma transfer ilmu tata bahasa (Gakushuu), ada misi terselubung dari program From Zero to Hero ini. Pemkab Cirebon ingin merombak total etos kerja anak muda Cirebon agar seirama dengan prinsip Kaizen (perbaikan tiada henti) dan kedisiplinan ekstrem khas Jepang.

0 Komentar